MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Otoritas Arab Saudi mewanti-wanti jemaah haji soal potensi cuaca panas ekstrem hingga 44 derajat Celsius, saat puncak Ibadah Haji 2024.
Ibadah haji di Saudi akan dimulai pada 14 Juni. Ibadah ini merupakan salah satu rukun Islam dan harus dilaksanakan setidaknya satu kali bagi yang mampu, secara ekonomi hingga kesehatan.
Selain peringatan terkait cuaca panas, otoritas Arab Saudi juga memberikan instruksi kepada para jemaah haji terkait protokol kesehatan yang harus diikuti selama pelaksanaan ibadah.
Keselamatan dan kesehatan jemaah haji tetap menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini.
Otoritas Arab Saudi bekerja sama dengan berbagai pihak terkait, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk memastikan bahwa setiap aspek dari pelaksanaan ibadah haji dipersiapkan dan dijalankan dengan baik.
Mengutip CNN Indonesia, Kepala Badan Meteorologi Nasional Saudi, Ayman Ghulam, memprediksi kemungkinan akan ada kenaikan suhu dari situasi normal.
“Perkiraan musim haji tahun ini akan menyaksikan kenaikan suhu rata-rata satu setengah hingga dua derajat dari suhu normal di Mekkah dan Madinah,” kata Ghulam saat konferensi pers pada Selasa (4/6) dikutip AFP.
Dia lalu berujar, “Perkiraan itu menunjukkan kelembaban relatif 25 persen, tingkat hujan mendekati nol, suhu maksimum rata-rata 44 derajat [Celsius].”
Untuk mengatasi cuaca panas ekstrem itu, Saudi menyediakan air dengan jumlah cukup guna memenuhi kebutuhan para jemaah.
Ghulam juga menyebut pihak berwenang Saudi menyediakan tenda yang dilengkapi dengan pendingin udara untuk mengurangi rasa panas.
Musim haji tahun lalu, para jemaah juga mengalami cuaca ekstrem.
Menurut data pemerintah Saudi, suhu tahun lalu saat musim haji mencapai 48 derajat Celsius. Imbas gelombang panas ini, sekitar 2.000 orang mengalami heatstroke.
Namun, jumlah kasus jemaah yang mengalami heatstroke diduga lebih tinggi. Banyak penderita yang tak dirawat di rumah sakit atau klinik sehingga mereka tak tercatat data resmi. (**)