MELIHAT INDONESIA, WONOSOBO – Fenomena langka terjadi di Desa Binangun, Kecamatan Watumalang, Wonosobo, Jawa Tengah, saat proses pemungutan suara Pilkada 2024. Dua Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang saling berdekatan mencatat hasil mutlak namun dengan kandidat yang berbeda. Kejadian ini memicu perhatian publik dan menjadi sorotan dalam perbincangan politik lokal.
Suara 100 Persen di Dua TPS
Di TPS 12, pasangan calon (paslon) Andika Perkasa dan Hendrar Prihadi meraih seluruh suara sah dengan total 426 suara. Sementara itu, paslon Ahmad Luthfi dan Taj Yasin Maimoen tidak memperoleh satu pun suara di TPS tersebut. Sebaliknya, di TPS 11, paslon Ahmad Luthfi dan Taj Yasin mencatat kemenangan mutlak dengan 354 suara, sementara Andika Perkasa dan Hendrar Prihadi tidak mendapatkan dukungan sama sekali.
Kepala Desa Binangun, Umaryadi, mengonfirmasi bahwa hasil ini benar adanya. “Ini bukan pertama kalinya suara mutlak terjadi di desa kami. Pada pemilihan sebelumnya, ada calon legislatif yang juga memperoleh hasil serupa di TPS tertentu,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (27/11/2024).

Faktor Kekompakan Warga
Menurut Umaryadi, hasil mutlak ini mencerminkan kekompakan warga di masing-masing TPS. Warga di kedua TPS tersebut berasal dari kampung yang sama, tetapi mereka cenderung mendukung kandidat berbeda berdasarkan pengaruh sosial dan politik. “Warga kami dikenal solid, sering gotong royong, dan sangat kompak dalam berbagai kegiatan. Namun, pilihan politik mereka terpolarisasi secara alami,” jelasnya.
Basis Dukungan Kandidat
TPS 12 dikenal sebagai basis pendukung PDIP, yang mengusung Andika Perkasa dan Hendrar Prihadi. Tokoh masyarakat setempat yang memiliki hubungan erat dengan partai ini juga disebut-sebut sebagai faktor utama di balik dominasi suara mereka. “Di lingkungan TPS 12, pengaruh tokoh PDIP sangat kuat. Hal ini menciptakan ikatan emosional antara warga dan kandidat yang diusung,” kata Umaryadi.
Sebaliknya, TPS 11 menunjukkan preferensi kuat terhadap pasangan Luthfi dan Taj Yasin. Dukungan ini diyakini berasal dari kelompok yang lebih terafiliasi dengan nilai-nilai keagamaan yang diusung paslon tersebut. “Pasangan ini dikenal dekat dengan komunitas religius yang aktif di kampung kami,” tambahnya.
Respons Publik
Fenomena ini memicu berbagai respons dari masyarakat dan pengamat politik. Beberapa menganggap hasil mutlak ini sebagai bentuk kedewasaan politik warga yang mampu mengelola perbedaan tanpa konflik. Namun, ada pula yang menilai bahwa pola pemilihan seperti ini mencerminkan pengaruh besar elite lokal terhadap preferensi politik masyarakat.
Pelajaran dari Desa Binangun
Desa Binangun memberikan pelajaran penting tentang dinamika politik lokal. Hasil mutlak di dua TPS yang berdekatan menunjukkan bagaimana faktor sosial, budaya, dan kepemimpinan lokal dapat memengaruhi hasil pemilu. Selain itu, kejadian ini menegaskan perlunya analisis lebih dalam terkait pola pemilihan di tingkat desa, terutama untuk memahami akar penyebab polarisasi dukungan yang mencolok.
Harapan untuk Pemimpin Baru
Dengan selesainya proses pemungutan suara, masyarakat Desa Binangun berharap agar siapa pun yang terpilih mampu membawa perubahan positif bagi daerah mereka. “Kami hanya ingin pemimpin yang peduli dan mau bekerja untuk rakyat,” kata salah satu warga. Mereka juga berharap pola gotong royong yang telah menjadi ciri khas desa tetap terjaga, meskipun pilihan politik berbeda.
Fenomena unik di Desa Binangun menjadi salah satu catatan menarik dalam sejarah Pilkada 2024. Perbedaan pilihan yang mencolok ini sekaligus menggambarkan keragaman dalam demokrasi yang dapat berjalan damai di tengah masyarakat yang solid. (**)