MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Mimbar Katolik kali ini merupakan buah pikiran yang ditulis Gregorius Heri Eko Prasojo (Pembimbing Masyarakat Katolik Kanwil Kemenag Kepulauan Bangka Belitung), dari laman Kementrian Agama RI, kemenag,go.id.
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, Kisah angin ribut diredakan yang dibacakan dalam Injil hari Minggu Biasa ke XII ini diambil dari Injil Markus Bab 4. Injil Markus Bab 4 diawali dengan berbagai pengajaran Yesus yang disampaikan lewat perumpamaan dan ditutup dengan kisah mukjizat Yesus yang meredakan angin ribut. Penginjil Markus bermaksud menyampaikan kepada para pembacanya tentang siapa Yesus dan setelah mengetahuinya kemudian semakin dekat dengan Yesus dan akhirnya bersungguh-sungguh mengikuti-Nya. Dengan kata lain, kisah mukjizat sebagai penutup Bab 4 ini ditampilkan dengan tujuan membuat orang lebih dekat pada diri Yesus dan pengajaran-Nya.
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, Ada dua bagian peristiwa yang berkaitan dengan Yesus dalam kisah mukjizat ini. Pertama, dikisahkan oleh Markus bahwa Yesus ada di buritan dan tidur ketika taufan datang dan mengakibatkan ombak besar sehingga air masuk ke dalam perahu. Menarik kalau kita merenungkan lebih dalam, kata-kata dan kalimat yang dipilih Markus. Buritan adalah tempat bagian belakang dari perahu dan biasanya menjadi tempat juru murid. Lalu kalau Yesus ada di situ, apakah berarti Yesus yang mengemudikan perahu itu? Kalau Yesus yang mengemudikan, mengapa Yesus justru tidur? Bisa jadi memang Yesus yang mengemudikan, makanya para murid protes kepada-Nya, “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Ini ungkapan protes kepada Yesus dan bukan ungkapan “minta tolong” seperti yang dikisahkan oleh penginjil Matius dan Lukas. Apa yang mau disampaikan oleh penginjil Markus kepada pembacanya termasuk kita?
Memang benar bahwa Yesus adalah juru mudi kita, bahwa Dialah yang membawa kita pada keselamatan sebagaimana yang kita imani. Tetapi lebih jauh dari itu, Yesus memberi contoh pada kita bahwa percaya dan beriman itu berarti menyerahkan segala sesuatunya kepada Yang Diimani. Yesus percaya sungguh bahwa Allah Bapa-Nya akan melindungi. “Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman” (Mazmur 4:9). Dan untuk sampai pada penyerahan diri kepada Allah dibutuhkan upaya menyelaraskan kehendak sendiri dengan kehendak Allah, keinginan sendiri dengan keinginan Allah. Dibutuhkan hati nurani yang bersih untuk sampai pada “bisa tidur” dalam situasi yang mungkin tidak mengenakkan dan tidak menyenangkan, tetap merasa nyaman dan aman bersama Allah sekalipun menghadapi kesulitan.
Kedua, adalah apa yang kemudian dilakukan Yesus yaitu menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Inilah tanda ajaibnya, bahwa Yesus juga berkuasa atas alam sehingga angin dan danau pun takluk kepada-Nya. Dengan kuasa-Nya dan dengan tanda ajaib-Nya, Yesus menyatakan bahwa diri-Nya tidak membiarkan orang lain binasa. Yesus tidak larut dalam rasa nyaman dan aman bersama Allah Bapa-Nya yang oleh penginjil Markus dikisahkan “tidur di buritan”, tetapi Yesus meninggalkannya untuk kemudian menyelamatkan para murid-Nya dari bahaya angin ribut dan badai, bukan hanya kedua belas murid-Nya tetapi juga banyak orang yang ada di perahu-perahu lain yang mengikuti-Nya.
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Setelah sabda yang ditujukan pada alam, Yesus kemudian menyampaikan sabda-Nya untuk para murid-Nya, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Yesus sudah memberikan teladan sebelumnya bahwa orang yang tinggal di dalam Allah, mestinya tidak perlu takut karena percaya bahwa Allah melindunginya. Dan untuk dapat tinggal di dalam Allah, dibutuhkan hati nurani yang bersih. Mari, belajar dari kisah ini, kita mengupayakan hati nurani yang bersih dan menyelaraskan kehendak kita untuk dapat tinggal bersama Allah sekaligus memupuk rasa peduli dan memperhatikan sesama sehingga tidak ada yang kecewa, kesal, atau bahkan celaka karena kita.
Gregorius Heri Eko Prasojo (Pembimbing Masyarakat Katolik Kanwil Kemenag Kepulauan Bangka Belitung)