Minggu, Mei 10, 2026

Bolehkah Pria Tidak Menikah? Ini Kata Gus Baha

MELIHAT INDONESIA – Dalam sebuah pengajian KH Ahmad Bahauddin Nursalim, lebih dikenal sebagai Gus Baha, pernah membahas mengenai laki-laki yang memilih untuk tidak menikah. Pembahasannya yang menyejukkan bisa menjadi rujukan tanpa menyakiti pihak manapun.

“Boleh ndak seorang lelaki uzubah atau tidak nikah?” tanya Gus Baha.

Ulama kharismatik ini mengutip pendapat Imam Syafi’i, yang membedakan antara lelaki yang tidak menikah karena membenci sunnah Rasul dan mereka yang tidak menikah karena takdir.

Menurutnya, jika seorang laki-laki tidak menikah karena membenci sunnah Rasul, maka hal itu dianggap buruk. Namun, jika alasannya adalah takdir atau ketidaksukaan terhadap pernikahan, maka hal itu diperbolehkan dan tidak menjadi masalah.

“Menurut Imam Syafi’i, kalau dia tidak menikah karena benci sunnah Rasul, itu buruk. Tapi kalau karena takdir dia tidak suka menikah atau tidak laku menikah, ya tidak apa-apa,” jelas Gus Baha, seperti dikutip dari kanal YouTube @alimulama495.

Gus Baha juga menambahkan bahwa saat Imam Syafi’i ditanya tentang dalilnya, beliau menjawab dengan tenang.

“Imam Syafi’i ditanya apa dalilnya, jawabnya rileks sekali,” kata Gus Baha. “Allah menyebutkan beberapa hamba yang sholeh, dan di antara mereka ada yang berstatus hasyur, yaitu orang yang tidak menikah.”

Ia menegaskan bahwa tidak menikah tidak mengganggu kesalehan seseorang. Jadi, status tidak menikah tetap halal.

“Artinya, tidak menikah itu tidak mengganggu kesalehan, uzubah atau tidak menikah dimaknai halal. Semudah itu kok. Sekarang kok jadi sulit, yang salah gurunya atau muridnya,” ujar Gus Baha.

Sementara itu, mengutip dari NU Online, menikah adalah sunnah Nabi Muhammad SAW yang sangat dianjurkan bagi umat Islam. Bahkan, Nabi pernah melarang sahabat yang berniat meninggalkan nikah agar bisa mempergunakan seluruh waktunya untuk beribadah kepada Allah, karena hidup membujang tidak disyariatkan dalam agama.

Suatu ketika ada tiga rombongan yang datang bertamu ke salah satu istri Rasulullah SAW untuk menanyakan perihal ibadah sunnah yang dilakukan oleh beliau. Setelah mendapatkan jawaban, mereka saling berdiskusi. Salah satu di antara mereka bertanya, “Manakah ibadah sunnah Nabi Muhammad SAW yang telah kita kerjakan yang dapat mengampuni dosa-dosa kita baik yang sudah lampau maupun dosa yang akan datang?”

Salah seorang menjawab, “Aku telah sholat sepanjang malam.”

Yang lain berkata, “Aku telah berpuasa sepanjang tahun dan tidak pernah berbuka.”

Seorang lagi menambahkan, “Aku telah menjauhi wanita dan tidak mau menikah selamanya.”

Tiba-tiba Rasulullah SAW mendatangi mereka dan berkata, “Kalian telah berkata begini dan begitu, tapi demi Allah, aku adalah manusia yang paling takut kepada-Nya. Oleh karena itu, aku berpuasa, sholat, tidur, dan menikah. Barang siapa yang tidak suka dengan sunnahku (nikah), maka bukan golonganku.”

Oleh karena itu, Islam mensyariatkan pernikahan sebagai peristiwa fitrah, sarana paling agung dalam memelihara keturunan, dan memperkuat hubungan antar sesama manusia, yang menjadi sebab terjaminnya ketenangan, cinta, dan kasih sayang. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.