Jumat, Juni 5, 2026

Program Makanan Bergizi Gratis, Gibran Gak Suka Tempe dan Buncis!!

MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto mulai dilaksanakan pada Senin (6/1/2025). Program ini bertujuan untuk meningkatkan gizi siswa di seluruh Indonesia, dengan pembagian jutaan porsi makanan ke berbagai sekolah. Namun, respons terhadap program ini menunjukkan beragam sudut pandang dari siswa hingga masyarakat.

Beragam Tanggapan dari Siswa
Dikutip dari beberapa sumber, Gibran, siswa SDN 25 Palembang, menyampaikan ketidaksukaannya terhadap menu yang disediakan. “Tidak suka tahu dan tempe, tidak suka buncis, sukanya sayur kangkung, ayam, atau ikan,” ungkapnya. Ia juga mengaku sudah sarapan di rumah sebelum menerima makanan tersebut, sehingga memilih untuk membawanya pulang.

Berbeda dengan Gibran, Queenza Elena, seorang siswa berusia 8 tahun, justru menikmati menu tahu dan tempe yang diberikan. “Suka sama makanannya, karena di rumah Bunda suka masak tahu dan tempe, jadi Queen suka,” katanya dengan antusias. Ia bahkan sengaja tidak sarapan di rumah agar bisa menikmati makanan gratis bersama teman-temannya.

Kontroversi Wadah Makanan
Selain menu, perhatian netizen juga tertuju pada wadah makanan yang digunakan. Wadah berbahan stainless dengan sekat-sekat untuk memisahkan nasi, lauk, dan sayur mendapat komentar beragam. Beberapa netizen membandingkannya dengan wadah makanan di penjara.

Juru Bicara Komunikasi Kepresidenan, Prita Laura, menanggapi komentar tersebut dengan santai. “Pemakaian wadah ini bertujuan mengurangi sampah plastik. Wadah ini juga bisa digunakan berulang kali,” jelasnya saat berada di SMPN 174 Jakarta. Ia menambahkan bahwa program ini telah melalui proses uji coba untuk memastikan kualitasnya.

Dinamika Menu Makanan
Menu makanan bergizi gratis disusun berdasarkan ketersediaan bahan di daerah masing-masing. Di Jakarta, menu mungkin berisi ayam, sementara di daerah lain seperti pesisir, ikan menjadi alternatif utama. Prita menegaskan bahwa variasi menu selama 30 hari bertujuan menghindari kebosanan siswa.

“Menu SD dan SMP memang kami samakan saat pelaksanaan hari ini, berbeda dengan uji coba sebelumnya. Namun, kebutuhan kalori siswa tetap dihitung sesuai standar, yaitu 1.500 hingga 1.800 kalori per hari,” tambahnya.

Harapan dan Tantangan Program
Bagi Queenza dan siswa lain yang menikmati makanan bergizi ini, program MBG menjadi momen istimewa untuk berbagi pengalaman makan bersama teman-teman di kelas. Namun, bagi pihak yang kurang puas, seperti Gibran, tantangan pemerintah adalah meningkatkan kualitas menu agar sesuai dengan selera dan kebutuhan siswa di berbagai daerah.

Sementara itu, pemerintah tetap berkomitmen menjalankan program ini sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup generasi muda. “Tidak mungkin semua pihak merasa puas, tetapi kami fokus pada tujuan utama, yaitu memenuhi kebutuhan gizi anak-anak,” tegas Prita.

Keberlanjutan Program MBG
Program MBG tidak hanya menjadi langkah untuk meningkatkan gizi anak-anak tetapi juga memunculkan diskusi luas tentang kebutuhan dan ekspektasi masyarakat terhadap kebijakan pemerintah. Apakah program ini mampu terus berjalan dan menghadirkan dampak positif jangka panjang? Waktu dan konsistensi pelaksanaan akan menjadi kunci keberhasilannya. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.