Selasa, Juli 21, 2026

Data Mengejutkan, Ratusan Anak hingga Mahasiswa di Sidoarjo Hidup dengan HIV

Ratusan anak dan pelajar di Kabupaten Sidoarjo tercatat hidup dengan HIV berdasarkan data terbaru Delta Crisis Center (DCC). Temuan tersebut mendorong pemerintah daerah memperkuat upaya pencegahan dan edukasi di lingkungan sekolah, sekaligus memastikan tidak ada diskriminasi terhadap peserta didik yang mengidap HIV.

Direktur Program Yayasan Delta Crisis Center (DCC), Ferry Efendi, mengungkapkan hingga 1 Juli 2026 terdapat 522 anak dan pelajar yang hidup dengan HIV dari total 7.129 Orang dengan HIV (ODHIV) di Sidoarjo. Rinciannya terdiri dari sekitar 13 anak usia PAUD/TK, 44 siswa SD hingga SMP sederajat, serta 465 pelajar SMA sederajat hingga mahasiswa.

Ferry menjelaskan, penularan HIV pada kelompok usia tersebut terjadi melalui beberapa jalur, seperti penularan dari ibu ke anak saat kehamilan, persalinan atau menyusui, penggunaan jarum suntik pada penyalahgunaan narkoba, hingga hubungan seksual berisiko.

HIV hanya menular melalui darah, hubungan seksual, penggunaan jarum suntik, dan ASI. Karena itu masyarakat perlu mendapat edukasi agar memahami cara penularan dan pencegahannya,” ujar Ferry, Senin (20/7/2026).

Menindaklanjuti temuan tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Sidoarjo akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk memperkuat langkah pencegahan di sekolah. Program yang disiapkan meliputi penyusunan kebijakan pencegahan HIV/AIDS, edukasi kesehatan reproduksi, serta pelatihan bagi kepala sekolah, guru kelas, dan guru bimbingan konseling.

Kepala Bidang Mutu Pendidikan Disdikbud Sidoarjo, Lilik Sulistyowati, menegaskan pihaknya juga berkomitmen mencegah munculnya stigma terhadap peserta didik maupun tenaga pendidik yang hidup dengan HIV.

Kami ingin memastikan tidak ada diskriminasi terhadap peserta didik maupun tenaga pendidik yang hidup dengan HIV. Semua berhak memperoleh layanan pendidikan yang sama,” tegas Lilik.

Selain menggandeng Dinas Kesehatan, Disdikbud juga melibatkan Dinas Sosial, Kementerian Agama, Komisi Penanggulangan AIDS, puskesmas, hingga organisasi kemasyarakatan dalam upaya pendampingan. Saat ini, seorang siswi SMP yang diketahui positif HIV juga telah mendapatkan pendampingan agar rutin menjalani terapi antiretroviral (ARV) serta tetap dapat bersekolah tanpa mengalami stigma maupun diskriminasi.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.