MELIHAT INDONESIA, SEMARANG – Laut di Semarang tercemar logam berat. Nelayan pun terkena dampaknya: hasil tangkapan menurun dan harganya merosot.
Salah satu nelayan, Marzuki mengatakan, ikan sudah sulit ditemukan di laut yang dekat daratan. Sementara jika bergerak jauh ke tengah laut yang banyak ikannya, perahu nelayan tradisional tidak mumpuni.
Akhirnya, sejak beberapa tahun terakhir, nelayan tradisional beralih fokus dari menangkap ikan menjadi membudidaya kerang hijau.
Kata Marzuki, hasil kerang hijau cukup melimpah. Satu tambak dengan 1.000 tiang bambu mampu menghasilkan 30 ton kerang hijau sekali panen.
“Kerangnya banyak, cuma yang jadi masalah harganya. Kerang hijau dari Semarang tidak laku di pasaran,” keluhnya, Rabu (8/1/2025).
Pernyataan itu diamini Ketua RW 16 Kelurahan Tanjung Mas Semarang, Slamet Riyadi. Dia mengaku kerap dicurhati warganya yang mayoritas bekerja sebagai nelayan.
“Kerang hijau dari Semarang harganya cuma Rp3.000-Rp6.000 per kilogram,” ujarnya.
Padahal, setahu Slamet, harga kerang hijau di tempat lain seperti di Kendal bisa mencapai Rp10.000-Rp20.000 per kilogram.
Menurut informasi yang ia terima, kerang dari daerah lain bisa mahal karena pangsa pasarnya kalangan menengah ke atas seperti menyuplai kebutuhan resto dan perhotelan.
“Hotel dan resto nggak mau ambil kerang hijau dari Semarang karena katanya disinyalir mengandung merkuri atau apalah itu,” jelas Slamet.
Dugaan tercemarnya kerang hijau sejalan dengan hasil alaisis Yayasan Amerta Air Indonesia bersama Walhi Jawa Tengah.
Perwakilan Yayasan Amerta Air Indonesia, Syukron Salam mengatakan, sedikitnya ada 18 penelitian berbagai sumber yang mengungkap bahwa perairan teluk Semarang tercemar logam berat.
Namun, menurutnya, masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan melarang masyarakat mengonsumsi kerang hijau dari Semarang.
Dia menegaskan, tercemarnya hasil laut bisa diselesaikan dengan mengurasi pencemaran.
Berdasarkan data yang mereka kumpulkan, ada 48 industri di wilayah teluk Semarang yang berpotensi melakukan pencemaran, termasuk kawasan industri di Pelabuhan Tanjung Emas.
“Kalau ingin menyelesaikan ya harus cari akar masalahnya, ya perusahaan pencemar itu,” tegas Syukron. (*)