Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, mengirimkan surat resmi kepada Menteri ESDM, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta Menteri Kehutanan untuk meminta evaluasi total terhadap kebijakan dan penanganan lingkungan hidup menyusul rangkaian banjir bandang dan longsor yang melanda berbagai wilayah di Sumatra. Ia menilai bencana yang terus berulang merupakan tanda perlunya koreksi besar-besaran oleh pemerintah.
Cak Imin menyebut langkah tersebut sebagai upaya taubatan nasuha atau perbaikan total dengan kesungguhan penuh. “Mendorong seluruh kementerian terkait untuk meninjau kembali kebijakan, pola koordinasi, serta langkah penanganan lingkungan yang selama ini berjalan,” katanya di Bandung, 1 Desember 2025.
Ia juga menceritakan kunjungannya ke Sukabumi, di mana ia melihat langsung titik-titik rawan longsor, dan menegaskan bahwa evaluasi menyeluruh ini diharapkan menjadi momentum pembenahan serius pemerintah.
Dalam kesempatan lain, ia menyampaikan belasungkawa atas bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Menurutnya, musibah ini bukan hanya disebabkan faktor alam, tetapi juga mencerminkan kelalaian panjang dalam pengelolaan lingkungan.
“Hari ini saya berkirim surat ke Menteri Kehutanan, Menteri ESDM, dan Menteri Lingkungan Hidup untuk bersama-sama melakukan evaluasi total terhadap seluruh kebijakan dan langkah-langkah kita sebagai wujud komitmen dan kesungguhan pemerintah,” ujarnya.
Ia menilai perlunya perubahan cara pandang seluruh pemangku kepentingan, bahkan menyebut, “Kiamat bukan sudah dekat kiamat sudah terjadi akibat kelalaian kita sendiri.”
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan korban jiwa akibat banjir bandang dan longsor terus meningkat. Data per 2 Desember 2025 mencatat 604 orang meninggal dunia dan 464 lainnya masih hilang, sementara sekitar 2.600 lainnya mengalami luka-luka. Sebanyak 1,5 juta penduduk terdampak dan 570.700 di antaranya terpaksa mengungsi di 50 kabupaten/kota.
Kerusakan ikut melanda fasilitas publik, dengan 3.500 rumah hancur berat, 4.100 rusak sedang, lebih dari 20.500 rumah rusak ringan, serta 282 sekolah dan 271 jembatan mengalami kerusakan berat. Para pakar menilai skala bencana diperparah kombinasi curah hujan ekstrem akibat siklon tropis dan kerusakan lingkungan berkepanjangan, terutama di kawasan hutan dan daerah aliran sungai. Pemerintah pusat dan daerah kini mempercepat evakuasi, penyaluran bantuan, dan pembukaan akses ke wilayah terdampak.