Sabtu, Juni 6, 2026

Arus Balik, Jangan Jadi Arus Maut, Waspadai Bahaya di Jalan Pulang

MELIHAT INDONESIA, BANYUMAS – Libur Lebaran usai, dan kini jutaan pemudik bersiap kembali ke kota. Namun, euforia bertemu sanak saudara bisa seketika berubah menjadi bencana jika perjalanan arus balik tak direncanakan dengan matang. Jalur darat memadat, waktu tempuh tak bisa ditebak, dan risiko kecelakaan mengintai siapa saja yang abai terhadap kondisi tubuh maupun kendaraan.

Arus balik bukan sekadar perjalanan pulang. Ini adalah ujian terakhir setelah sebulan berpuasa dan seminggu penuh aktivitas intens bersama keluarga. Tubuh yang belum pulih total, dipaksa kembali menempuh perjalanan panjang, seringkali menjadi pemicu tragedi.

Kepadatan di jalan tol maupun jalur arteri telah menjadi fenomena tahunan. Tapi tahun ini, potensi bahayanya meningkat. Bukan hanya karena jumlah kendaraan yang melonjak, tapi juga karena minimnya kewaspadaan pengemudi setelah terbuai suasana liburan.

“Kelelahan dan kurang tidur menjadi penyebab utama kecelakaan di arus balik. Jangan remehkan istirahat,” ujar pengamat transportasi Djoko Setijowarno dalam keterangannya beberapa waktu lalu.

Bagi pengguna kendaraan pribadi, kendaraan yang tak dicek menyeluruh bisa menjadi ‘bom waktu’. Rem blong, ban aus, atau radiator bocor, cukup untuk membuat mobil mogok di tengah antrean panjang. Belum lagi jika terjadi cuaca ekstrem atau kemacetan total yang membuat perjalanan terhenti berjam-jam.

Pengguna transportasi umum pun tak luput dari tantangan. Terminal dan stasiun penuh sesak, risiko barang hilang meningkat, dan keterlambatan jadi momok tersendiri. Semua bisa menjadi pemicu stres tinggi jika tak disikapi dengan kesiapan mental dan fisik.

Untuk itu, beberapa langkah strategis wajib diterapkan. Pertama, jangan pernah memulai perjalanan dalam kondisi mengantuk. Tidur cukup sebelum berangkat adalah syarat mutlak. Jangan hanya mengandalkan kopi atau minuman energi sebagai ‘penyelamat’ di jalan.

Kedua, periksa kendaraan sedetail mungkin. Bawa ke bengkel jika perlu. Jangan menunda hanya karena merasa mobil “masih kuat”. Kecelakaan tidak pernah menunggu.

Ketiga, atur waktu keberangkatan secara cerdas. Hindari puncak arus balik. Gunakan aplikasi navigasi yang bisa memperlihatkan kondisi lalu lintas real-time dan jalur alternatif yang lebih lengang.

Keempat, rest area bukan tempat pelesiran, tapi penyelamat nyawa. Gunakan dengan bijak. Berhenti setiap beberapa jam, peregangan tubuh atau tidur sejenak bisa menyegarkan konsentrasi yang mulai memudar.

Kelima, siapkan logistik secukupnya. Air minum, camilan, power bank, uang tunai, dan obat pribadi wajib ada dalam tas. Jangan menggantungkan semua kebutuhan pada fasilitas di jalan yang belum tentu tersedia.

Keenam, bagi pengguna bus atau kereta, waspadai barang bawaan. Letakkan dokumen penting dan barang berharga di tempat aman dan dekat tubuh. Jangan lengah terhadap orang asing yang mencurigakan.

Ketujuh, jadikan teknologi sebagai teman, bukan sekadar pelengkap. Gunakan aplikasi pendukung perjalanan, update informasi dari media sosial terpercaya, dan ikuti arahan petugas di lapangan jika terjadi pengalihan arus.

Perjalanan pulang dari kampung halaman seharusnya menjadi penutup yang manis, bukan awal dari duka. Persiapan yang buruk bukan hanya menyulitkan diri sendiri, tapi juga membahayakan nyawa orang lain di jalan.

Kemenangan sejati Lebaran bukan hanya pulang kampung dengan selamat, tapi juga kembali ke rutinitas dengan tubuh sehat dan mental siap tempur. Jangan biarkan arus balik menjadi arus maut. Bijak di jalan, waspada setiap saat. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.