Fenomena santri ikut membantu pengecoran bangunan di lingkungan pesantren kembali ramai diperbincangkan di media sosial.
Hal ini mencuat setelah beredarnya video sejumlah santri yang ikut ngecor di pondok pesantren, bersamaan dengan maraknya pemberitaan tentang robohnya mushala di Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo.
Menanggapi hal tersebut, pendakwah Gus Miftah memberikan klarifikasi dan pembelaan terhadap tradisi tersebut.
Menurutnya, aktivitas para santri itu bukan bentuk pekerjaan kasar atau eksploitasi, melainkan upaya mencari berkah dengan turut membangun pondok tempat mereka menimba ilmu.
Gus Miftah menegaskan, para santri yang ikut membantu pembangunan pondok melakukannya secara sukarela, bukan karena perintah atau paksaan dari pihak pengasuh.
Ia menyebut kegiatan seperti itu sudah menjadi tradisi lama di banyak pesantren, di mana para santri bergotong royong menjaga dan membangun fasilitas yang mereka gunakan bersama.
“Itu bukan nguli, tapi mencari berkah. Mereka ingin berpartisipasi membangun rumahnya sendiri,” ujar Gus Miftah.
Ia juga mengingatkan agar publik tidak tergesa-gesa menilai praktik di pesantren dengan kacamata luar.
Menurutnya, tradisi tabarruk atau mencari berkah dengan beramal fisik adalah bagian dari pendidikan karakter di pesantren.
Namun, ia menolak jika kegiatan tersebut dikaitkan langsung dengan kasus robohnya mushala di Sidoarjo.
“Setiap pesantren punya cara dan konteksnya masing-masing. Jangan semua disamaratakan,” katanya.
Fenomena ini memicu perdebatan di masyarakat.
Sebagian mendukung pandangan Gus Miftah dengan alasan tradisi pesantren mengajarkan kerja sama dan tanggung jawab, namun ada pula yang menilai bahwa kegiatan berat seperti itu seharusnya dilakukan dengan pengawasan profesional untuk menghindari risiko keselamatan.