MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Melanie Subono, seorang artis dan aktivis vokal di Indonesia, kembali menjadi sorotan setelah unggahannya di media sosial yang membandingkan skandal politik di Korea Selatan dengan kondisi di Indonesia. Dalam unggahannya pada 2 September 2024, Melanie mengomentari kasus mantan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, yang menjadi tersangka dalam dugaan suap untuk membantu mantan menantunya mendapatkan posisi strategis di perusahaan penerbangan Thai Eastar Jet.
Melanie menulis, “Tahu nggak, fakta: Mantan Presiden Korsel jadi tersangka abis ‘kasih’ jabatan buat mantunya. Pejabat-pejabat di Jepang malah bisa sampe ‘harakiri’ atau minimal mundur secara sadar sendiri begitu tahu buat salah. Gimana di Indonesia?”
Unggahan ini menarik perhatian publik dan memicu berbagai tanggapan dari netizen, yang menyoroti rendahnya budaya malu di Indonesia dibandingkan dengan Korea Selatan dan Jepang. Salah satu netizen menulis, “Intinya karena ‘budaya malu’ di Korea Selatan itu tinggi, kalau di sini ‘nggak punya malu’ alias muka tembok.”
Moon Jae-in Terjerat Skandal Suap
Di tengah kontroversi ini, mantan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, kini berada di bawah penyelidikan serius terkait dugaan suap yang melibatkan mantan menantunya, Seo. Kasus ini bermula pada tahun 2018 ketika Seo, yang dianggap kurang berpengalaman di industri penerbangan, diangkat sebagai eksekutif di Thai Eastar Jet, sebuah maskapai yang didirikan oleh mantan anggota parlemen, Lee Sang-jik. Pengangkatan ini terjadi saat Moon Jae-in masih menjabat sebagai presiden, sehingga menimbulkan kecurigaan adanya intervensi politik.
Jaksa menduga bahwa Seo menerima sejumlah 223 juta Won (sekitar Rp 2,5 miliar) sebagai gaji dan biaya relokasi selama periode 2018-2020. Uang ini diduga sebagai imbalan atas bantuan yang diberikan Moon kepada Lee, yang saat itu menjabat sebagai kepala Badan UKM dan Startup Korea.
Penggeledahan Rumah Moon Da-hye: Titik Balik Penyelidikan
Penyelidikan ini semakin intensif setelah jaksa melakukan penggeledahan di rumah putri Moon Jae-in, Moon Da-hye, pada 30 Agustus 2024. Penggeledahan tersebut bertujuan untuk melacak aliran dana yang diduga diterima oleh keluarga Moon selama masa jabatannya. Langkah ini menandai titik balik dalam penyelidikan, dengan Moon Jae-in kini secara resmi ditetapkan sebagai tersangka.
Skandal yang Mengguncang Publik dan Partai
Skandal ini tidak hanya mengguncang Partai Kekuatan Rakyat (PPP) yang kini berkuasa, tetapi juga memicu kemarahan publik Korea Selatan. PPP bersama kelompok sipil Justice People telah mengajukan serangkaian pengaduan terhadap Moon sejak 2020, menuduh adanya praktik quid pro quo dalam pengangkatan Seo. Tuduhan ini dianggap sebagai bagian dari skema yang lebih besar untuk memperkaya keluarga Moon selama masa jabatannya.
Penyelidikan ini juga menyeret beberapa mantan pejabat dari era pemerintahan Moon, termasuk Cho Hyun Ock, mantan sekretaris kepresidenan senior, yang telah didakwa atas dugaan penyalahgunaan kekuasaan.
Dampak Politik dan Masa Depan Moon Jae-in
Kasus ini berpotensi membawa dampak besar terhadap masa depan politik Moon Jae-in dan keluarganya. Publik Korea Selatan kini menantikan bagaimana Moon Jae-in akan merespons tuduhan ini, dan apakah kasus ini akan berujung pada konsekuensi hukum yang serius.
Sementara itu, Seo, yang telah diperiksa tiga kali oleh jaksa sepanjang tahun ini, terus mempertahankan haknya untuk tetap diam, menambah lapisan misteri dalam kasus yang sudah kompleks ini.
Refleksi Melanie Subono untuk Indonesia
Melalui unggahannya, Melanie Subono mengajak publik Indonesia untuk merenungkan budaya malu dan integritas dalam dunia politik. Skandal yang melibatkan Moon Jae-in menjadi cermin bagaimana isu-isu ini tidak hanya menjadi tantangan di Korea Selatan, tetapi juga di Indonesia, di mana Melanie menyoroti perbedaan sikap antara kedua negara dalam menghadapi skandal politik. (**)