Minggu, Juli 5, 2026

Tradisi Senioritas dan Kekerasan di PIP Semarang Terus Bertahan, Pernah Telan Korban Jiwa

MELIHAT INDONESIA, SEMARANG – Praktik senioritas dan budaya kekerasan di kampus kedinasan Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang kembali terulang.

Enam taruna senior kini diproses pidana karena didakwa menganiaya juniornya berinisial MG hingga ulu hatinya memar dan kencing darah.

Padahal, budaya kekerasan taruna senior ke junior di kampus yang sama pernah memakan korban jiwa pada September 2021 silam.

Saat itu, taruna Zidan Muhammad Faza meregang nyawa usai dipukul dan ditendang lima seniornya–sudah divonis bersalah dan tengah menjalani masa tahanan.

LBH Semarang bersama keluarga korban kekerasan di PIP Semarang menuntut pemerintah pusat dan kementerian yang memiliki sekolah kedinasan untuk segera menghentikan budaya dan praktik kekerasan di kampus.

Secara khusus, ia mendesak PIP Semarang untuk segera menghentikan perundungan, kekerasan, dan praktik senioritas yang berujung ke kekerasan agar tidak ada korban lainnya.

“Kami juga meminta (kampus) tidak melarang komunikasi antara taruna dan orang tua, terlebih selama masa orientasi taruna baru,” ujar perwakilan LBH, Nico Wauran, Jumat (16/8/2024).

Menurut Nico, praktik-praktik senioritas dan kekerasan di kampus kedinasan sudah banyak terjadi. Dia mencontohkan, pada Mei 2024 terjadi kasus pemukulan di STIP Jakarta. Pada Februari 2023, taruna Poltekpel Surabaya dipukuli di kamar mandi kampus.

Namun, dia menilai, pihak pemerintah dan kampus-kampus kedinasan tersebut seakan menutup mata, menganggap kejadian kekerasan sebagai hal biasa.

“Bahkan terungkap fakta bahwa terdapat doktrinasi dan tradisi yang terus menerus didapatkan taruna untuk menormalisasi adanya kekerasan,” kritiknya. (bhq)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.