Tragedi kebakaran Panti Jompo Werdha Damai di Kelurahan Ranomuut, Kecamatan Paal Dua, Kota Manado, menjadi salah satu insiden paling mematikan di Sulawesi Utara dalam beberapa tahun terakhir. Api dilaporkan mulai berkobar pada Minggu (28/12/2025) sekitar pukul 20.25 WITA–20.36 WITA, lalu cepat melahap bangunan panti yang dihuni para lansia.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Manado, Charles Jemmy Rotinsulu, menyebut saat petugas tiba, kondisi sudah kritis. “Dugaan kami, mereka, kalau bahasanya terkurung atau tidak bisa keluar dari lokasi, karena api dan asap dari dalam,” katanya. Ia juga menambahkan, “Rata-rata lansia juga, ketika dievakuasi banyak yang di tempat tidur.” Kondisi fisik penghuni yang terbatas membuat sebagian besar korban tidak sempat menyelamatkan diri.
Damkar menerima laporan pada pukul 20.31 WITA dan langsung mengerahkan 3–6 unit armada ke lokasi, yang berada di kawasan permukiman padat. Akses yang sempit sempat menyulitkan proses pemadaman. Meski demikian, api akhirnya berhasil dikendalikan dalam waktu sekitar 30 menit, dan dinyatakan padam total pada sekitar 21.30 WITA.
Setelah pemadaman, petugas menemukan 16 korban jiwa di dalam bangunan hangus. Selain itu, 16 penghuni lainnya berhasil dievakuasi selamat, 14 orang sempat dirawat di RSUD Manado, dan 2 orang dirujuk ke rumah sakit lain. Namun proses penyelamatan tidak mudah. Warga yang ikut membantu evakuasi hanya mengandalkan alat seadanya.
Steven Mokodompit, salah satu warga yang ikut mengevakuasi, menceritakan momen dramatis itu. “Jadi kami berusaha evakuasi yang masih bisa diselamatkan di bagian belakang,” ujarnya. Ia dan warga lain berhasil menyelamatkan enam orang melalui areal belakang panti. Mereka mengevakuasi dengan cara memanjat tembok setinggi 3–4 meter, menggunakan “pakai meja disusun dan tangga,” bahkan “pagar setinggi tiga sampai empat meter pakai meja disusun dan tangga,” untuk membantu para lansia keluar.
Namun, dari enam yang diselamatkan, satu orang tidak tertolong. “meninggal kehabisan oksigen,” kata Steven. Ia juga mengaku mendengar situasi semakin mencekam ketika proses evakuasi berlangsung. “Saat evakuasi ada bunyi ledakan di bagian dapur. Selain itu ada yang berteriak minta tolong kemungkinan kepanasan atau asap,” ungkapnya.
Di rumah sakit, luka dan trauma masih membayangi para penyintas. Salah satu penghuni panti, Rolin Rumeen (64), yang memiliki riwayat stroke, menceritakan bagaimana ia terbangun dan menyadari api sudah membesar. Ia awalnya mengira hanya pembakaran sampah di luar, sampai akhirnya melihat pantulan merah di dinding kamarnya.
“Saya lihat, kok semerah begitu api? Begitu saya tengok, aduh, api sudah besar,” kenangnya. Dalam kondisi panik, ia mencoba menyelamatkan diri dengan bertumpu pada tongkat. Ia keluar dari kamar “pakai tongkat”, dan menegaskan “Keluar sendiri”, bahkan “Keluar sendiri,” saat ditanya bagaimana proses ia menyelamatkan diri.
Namun, tak semua bernasib sama. Rolin mengingat teman-temannya yang menjadi korban jiwa sebagai rekan yang biasa menemaninya di malam hari. Mereka adalah teman “main domino kalau malam”, dan kini kenangan itu terus menghantuinya. “Terus terbayang-bayang,” katanya lirih, sembari mengingat teman-temannya “yang tak tertolong”.
Tim dokter forensik dari Biddokkes Polda Sulawesi Utara mengaku proses identifikasi jenazah menjadi tantangan besar. Dari 16 korban, 15 jenazah sulit dikenali secara fisik karena tidak utuh, sehingga polisi membuka Pos DVI Ante Mortem di RS Bhayangkara Manado untuk mengumpulkan data medis, sidik jari, properti, dan sampel DNA dari keluarga.
Kasat Reskrim Polresta Manado, AKP Elwin Kristanto, mengungkap barang bukti yang diamankan dari lokasi olah TKP. “Dari hasil olah TKP, polisi mengamankan sejumlah barang dari dalam panti, seperti sisa abu arang, kabel instalasi listrik, serta beberapa barang elektronik,” ujarnya. Dugaan sementara penyebab kebakaran mengarah pada arus pendek listrik, namun kesimpulan final masih menunggu hasil uji laboratorium forensik.
Kabid Humas Polda Sulut, Kombes Pol. Alamsyah P. Hasibuan, menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung. “Kasus ini masih dalam Lidik-Sidik, Tim Inafis dan Bidlabfor sedang melakukan olah TKP dan melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Dokkes Polda Sulut, AKBP dr. Tasrif, memberikan penjelasan mengenai progres identifikasi terbaru. Pada Selasa (30/12/2025), empat jenazah berhasil diidentifikasi, yakni:
- Herry Lombogia (70, laki-laki, Kecamatan Malalayang)
- Jansen H. Maringka (65, laki-laki, Kecamatan Sario)
- Olly Clara Kemur (85, perempuan, Kecamatan Paal Dua)
- Merry Bermuli Dengah (83, perempuan, Kecamatan Paal Dua)
Tasrif menyampaikan agar keluarga memahami proses identifikasi korban yang masih tersisa. “Untuk 12 jenazah lainnya masih dalam proses identifikasi. Sesuai dengan SOP, waktu pemeriksaan kurang lebih 2 minggu. Jadi kami mohon kepada keluarga korban untuk memakluminya,” ucapnya.
Keempat jenazah yang telah teridentifikasi kemudian diserahkan kepada keluarga untuk ibadah pemakaman.
Di sisi penyintas, Direktur RSUD Kota Manado, dr. Hesky Lintang, menyebut kondisi sebagian besar pasien luka kini mulai stabil. “pada umumnya dalam kondisi stabil, baik,” katanya. Namun satu pasien masih dirawat intensif karena mengalami “luka bakar 30%”.
Polda Sulawesi Selatan juga disebut turut memberikan pendampingan dan konseling bagi penyintas, untuk membantu pemulihan trauma psikis yang dialami para lansia.
Meski pemerintah kota telah menyatakan akan menanggung seluruh biaya pengobatan hingga korban pulih, tragedi ini menyisakan duka mendalam dan sorotan publik terkait keselamatan fasilitas sosial, khususnya bagi kelompok rentan seperti lansia yang memiliki keterbatasan mobilitas saat keadaan darurat terjadi.
Hingga kini, keluarga dan warga Manado masih menunggu perkembangan penyelidikan, sambil berharap tidak ada lagi tragedi serupa yang kembali merenggut nyawa para orang tua yang seharusnya mendapat perlindungan lebih di tempat mereka tinggal.