Sabtu, April 18, 2026

Bicara Capres Ter-Up To Date

Oleh : Randaru Sadhana

Agama islam memerintahkan setiap umatnya untuk mengajarkan kepada anak-anak itu menyesuaikan perkembangan zaman. Saya rasa dalam agama lain, hal serupa juga berlaku. Karena hari ini, kita tidak lagi berdiri pada zaman batu. Untuk mendapatkan api, ada korek atau pemantik yang beraneka ragam bentuk dan kualitasnya mengikuti perkembangan teknologi di zaman modernisasi ini.

Hal itu membuatku berpikir dari sudut pandang sebagai rakyat biasa, saat dipertontonkan tentang pemaparan gagasan dari masing-masing bacapres. Harusnya ada 3, tapi yang satu tidak bisa hadir. Ya capres Gerindra Prabowo Subianto tidak hadir, dalam acara pemaparan gagasan di panggung ideafest hari ini.

Ada apa gerangan? Takut tersorot kamera, atau sedang weekend, pak? Sayang sekali, padahal hari ini tidak ada jadwal merefleksikan diri. Jadi Prabowo tidak perlu menolak untuk bercermin dari masa lalu, demi menyongsong masa depan nanti.

Sudahlah kita bicarakan yang datang saja. Bukan Anies Baswedan yang terlalu berkutat dengan Jakarta. Karena yang diucapkan bagaikan langit dan bumi. Bahkan setiap orang juga bisa menilai bagaimana rekam jejaknya di ibukota.

Bagaimana bisa menilai disaat dia menyuruh barisan anak muda untuk mengambil pilihan dengan pertimbangan rekam jejak, sedangkan yang ditawarkan sendiri justru kegagalan. Lihat saja saat normalisasi sungai mandeg padahal program itu dinilai bisa mengurangi banjir di ibukota.

Belum lagi sumur resapan yang bukannya menyurutkan air banjir, tapi malah membawa malapetaka. Bahkan saat Anies bilang terbuka dengan kritik, yang justru dilakukan malah menutup aduan terbuka di balaikota. Lucu bukan yang seperti itu? Rekam jejak yang keluar dari mulut tidak sinkron dengan realisasinya.

Beda lagi dengan Ganjar Pranowo, yang mengeluarkan gagasan berdasarkan trek recordnya sebagai gubernur seperti dalam dunia pendidikan. Orientasi setelah menjalani wajib belajar adalah bekerja atau melanjutkan ke prguruan tinggi. Maka sebelum memasuki lapangan pekerjaan harus disiapkan secara matang.

Ganjar merintis SMKN Jateng gratis, 3 bersistem boarding school dan 15 hasil pengembangannya bersistem semi boarding school. Namanya saja sekolah kejuruan, maka teknis kerja di lapangan menjadi hal penting agar si anak bisa adaptif di lapangan.

Sekolah ini didesign untuk anak tidak mampu di Jateng, sehingga kebanyakan lulusannya langsung kerja. Dan penyalurannya juga merata dengan menggandeng berbagai perusahaan dan instansi negeri ini, sehingga mereka tidak menjadi pengangguran.

Bahkan pertanyaan terlontar dari salah satu moderator di sana, tentang bagaimana menanggapi anak lulusan STM lebih laku katimbang anak lulusan sarjana yang ilmunya lebih tinggi. Dengan cadasnya Ganjar menyebutkan program kampus merdeka.

Disana kerja lapangan didorong agar anak kuliahan tidak melulu bergumul dengan materi, tapi ada implementasi dan penerapannya di lingkungan kerja. Sehingga ketika melamar kerja bukan hanya adu ilmu saja tapi juga secara lapangan dapat menguasai.

Ganjar menyebut kurikulum menjadi penentu untuk membuat pembelajaran tidak lagi kaku. Ya harus mengikuti perkembangan zaman, teknologi sudah berkembang pesat. Tidak bisa hanya belajar lewat teorinya saja, harus ada prakteknya dan melakukan pembaharuan dalam beberapa caranya.

Salah satunya dengan magang, seperti program magang di pemerintahan yang dibukanya selama menjabat sebagai Gubernur Jateng. Tidak berhenti di sana Ganjar menyebutkan bagaimana anak berkebutuhan khusus juga menjadi perhatian pemerintah, dalam hak mendapatkan pendidikan inklusi.

Kesetaraan hak di mata rakyat adalah yang utama, agar mereka nyaman dan dapat melakukan kegiatan sehari-hari tanpa deskriminasi dari orang di sekitarnya. Di Jateng Ganjar meningkatkan performa desa inklusi, dera ramah penyandang disabilitas untuk mereka.

Di lain sisi kesetaraan diwujudkan Ganjar dengan aturan yang menjamin hak-hak mereka, dia sendiri yang membuat Peraturan Daerah Perlindungan Hak bagi penyandang disabilitas. Kesetaraan itu juga dapat dilihat dari perlakuaan yang sama di atap pemerintahan, dengan keikutsertaan mereka menjadi ASN.

Atas kesetaraan itu Ganjar dihampiri perwakilan ASN dari perwakilan difabel, ucapan terimakasih dan semangat muncul dari sosoknya. Ini baru satu dimana dalam menjalankan pemerintahan, nilai kemanusiaan menjadi hal yang dijunjung tinggi olehnya.

Kontribusi Ganjar di dunia pendidikan besar, bahkan bukan hanya generasi muda yang nantinya melanjutkan kemajuan negara, tapi kesejahteraan guru juga dinomorsatukan olehnya. Dari menaikkan gaji honorer dan memberi insentif ke guru keagamaan. Dari sana gagasan terbit agar guru kembali mendapat gaji yang besar, demi agenda melancarkan kemajuan negara dengan pergerakan massif dari SDMnya itu terwujud.

Dengan begitu, gotong royong untuk membawa ekonomi digital, ekonomi kreatif sesuai perkembangan zaman itu bisa menemukan akselerasinya. Satu hal itu saya ceritakan tentang bagaimana Ganjar menyelesaikan masalah yang mendera rakyat.

Karena Prabowo tidak hadir, maka penyelesaian masalah saya lihat dari panggung Mata Najwa saat dia dihadapkan dengan berbagai problematika terkini. Mental health salah satunya. Jika Prabowo hanya menawarkan makan gratis untuk pemenuhan gizi, maka Ganjar menawarkan pendampingan lewat konseling dan poli psikiater yang dibuka di puskesmas hingga RS. Pengaktifan peran sekolah dalam menjaga mental menjadi hal utama dari terobosan baru tadi. Jadi bukan hanya sakit fisik yang bisa diobati di puskesmas, tapi kebutuhan mental juga terpenuhi di sana.

Kenapa puskesmas dan RSU? Karena keduanya bisa dijangkau di tempat terdekat. Artinya pelayanan warga yang mudah, murah dan cepat teraktualisasi baik di sana. Prabowo yang hanya menggratiskan makanan saja tidak bisa menuntaskan masalah mental, justru hanya mengenyangkan urusan perut saja.

Bagaimana dengan beban pikiran di kepala? Itu belum dipecahkan oleh Pak Prabowo, kayaknya baru akan dipelajari lagi seperti UU ITE yang belum dikuasainya karena dia adalah menteri pertahanan bukan yang lain. Hahaha. Pantas ya seorang calon pemimpin memberi jawaban seperti itu? Clasic but funtastis.

Dari setiap panggung memang menorehkan cerita yang beraneka ragamnya, sayang Pak Prabowo tidak hadir. Jadi tidak ada yang menghibur kita, dengan jogetan mengalihkan jawaban ala capres Gerindra itu. Salam demokrasi sehat, kalau kata Pak Anies memilih karena rekam jejaknya ya, kawan.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.