Opini: Riski Ariani
Alhamdulillah, hampir 3 minggu umat Islam menunaikan ibadah puasa Ramadan 1445 Hijriyah. Tak terasa hari kemenangan Idulfitri 1 Syawal 1445 H segera tiba.
Rasa-rasanya baru kemarin kita merasakan betapa menyenangkannnya Hari Raya Idulfitri, dan tak lama lagi kita sudah akan dipertemukan dengannya lagi. Masya Allah, begitu cepatnya waktu berputar pada porosnya. Dan begitu, banyak pula kita melewati berbagai hal dalam kehidupan.
Pun Idulfitri menjadi hari yang mengesankan, karena biasanya pada hari ini yang jauh akan kembali didekatkan: mudik. Ya seperti halnya mereka yang banting tulang sampai ke kota orang, bahkan negeri seberang, guna mencukupi kebutuhan hidup keluarganya di kampung halaman mereka.
Merantau, menjadi istilah yang kerap disebutkan oleh banyak orang. Mereka (perantau) tentu saja memanfaatkan waktu Hari Raya untuk pulang demi bersua dengan sanak saudaranya, tak terkecuali pelukan kasih sayang dari orang yang dicintainya di kampung halaman, orangtua misalnya.
Rindu yang selama ini mereka kubur dalam-dalam akan tercurahkan bilamana sudah berjumpa dengan keluarganya. Bayangkan saja betapa sendu dan bahagianya saat-saat seperti itu…
Bagiku, anak rantau adalah individu hebat nan kuat. Sebab mayoritas dari mereka bekerja dengan niat ingsun ingin menyejahterakan keluarganya, pun ingin mengangkat derajat orangtuanya. Jauh-jauh mereka memeras keringat hanya untuk keluarga tercintanya. Sungguh perbuatan mulia.
Namun, di balik semangat membara mereka yang ingin meningkatkan kualitas hidup sekaligus membantu keluarganya, terkadang ada isak tangis yang disembunyikan. Ya, acap kali mereka harus menahan rasa kangen akan hangatnya pelukan keluarga.
Lumrah saja. Banyak yang demikian. Belum terbiasa jauh dari keluarga pasti akan membuat hati merasa sendiri dan hampa, sehingga perasaan-perasaan cemas dan ingin menyerah pun tak jarang hinggap.
Tapi itu hanya sementara, apabila kita mengingat maksud dan tujuan bekerja di tanah orang demi keluarga, pasti rasa tak nyaman yang terus berkecamuk dalam hati dan pikiran seiring berjalannya waktu akan lenyap dan berganti dengan dorongan antusias yang tinggi untuk bekerja.
Menjalani kehidupan sebagai anak rantau memanglah tidak mudah, butuh perjuangan untuk bisa melewati fase-fase tidak nyamannya. Namun percayalah, pelan tapi pasti semua akan indah pada waktunya.
Seperti saat ini, dimana kebanyakan perantau akan melakukan mudik ketika diberi waktu dari perusahaan tempat mereka bekerja untuk merayakan hari lebaran bersama keluarga besarnya.
Jauh-jauh hari pasti banyak yang sudah mempersiapkan kepulangannya, entah prepare oleh-oleh, mengemas pakaian, hingga membeli tiket untuk pulang kampung. Ada juga yang menggunakan kendaraan pribadi sebagai moda transport untuk mudik.
Ya, semenyenangkan itulah gambaran lebaran, Hari Raya-nya umat Muslim yang bisa dinikmati pula oleh umat beragama lainnya.
Menceritakan perihal anak rantau memang tak seringkas ini, banyak sebenarnya lika-liku perjuangannya untuk beradaptasi di tempat dan lingkungan baru. Tapi kembali lagi, semua akan mudah dilalui apabila sudah terbiasa dan tersu mencoba.
Oh yaa, bagi pemudik, apalagi anak rantau yang hendak pulang kampung tetap stay safe ya, jangan lupa berdoa sebelum bepergian. Insya Allah rasa rindu kita pada keluarga akan lekas terobati. Allahuma Aamiin… (*)