Opini: Miss Mayda
Kasus penyiksaan terhadap anak kembali terjadi. Kali ini dialami oleh anak dari Selebgram Aghnia Punjabi. Kejadian itu berlangsung selama Aghnia menitipkan anaknya yang bernama Cana kepada seorang suster, yang dia ambil dari salah satu yayasan ternama di Surabaya. Dia enggan menyebutkan yayasan itu secara gamblang di publik, karena memang dia ingin saling menjaga nama baik.
Selebgram berhijab itu mengaku harus menyelesaikan pekerjaannya, sehingga menitipkan Cana kepada sang suster yang sudah dia percayai. Namun nahas, kepercayaan itu harus rusak karena penganiayaan yang dilakukan sang suster. Tindakan keji itu terekam kamera CCTV, yang ia pasang di dalam kamar sang anak.
Selama kurang lebih 1 jam 15 menit, Cana disiksa suster berinisial “I” itu. Mulai dari dipukul kepalanya, dijambak dan ditindih badannya. Pintu kamar dalam kondisi terkunci rapat dan kejadian berlangsung pukul 4-5 setelah subuh. Praktis, tak ada yang bisa menolong anak malang itu.
Putri dari Aghnia itu sempat berusaha kabur, namun dikejar oleh sang suster. Akibatnya pun sangat mengenaskan, si anak pun dihajar oleh suste. Sekujur tubuhnya penuh luka dan lebam. Mulai dari mata yang lebam sampai sulit dibuka, telinga yang memar di beberapa bagian, dahi, pipi, hingga sudut bibir, itu belum di bagian badannya yang terbungkus baju dan terkena beberapa noda dari luka sang anak.
Penganiayaan oleh seorang suster itu kini sedang ditangani oleh Polresta Malang. Banyak pihak turut memviralkan kejadian memilukan itu. Salah satu warganet pun turut memberikan kesaksian soal suster yang dititipi anak oleh Aghnia itu.
Dalam keterangannya, warganet tadi mengatakan bahwa si suster tadi memiliki hati yang jahat karena pernah menyiksa balita ketika disalurkan menjadi pengasuh di luar pulau. Artinya Cana bukan korban pertama dan bukan satu-satunya karena dia punya reputasi buruk pula saat bekerja mengasuh anak sebelumnya.
Tindakan tidak berperikemanusiaan itu kembali menjadi alarm untuk para orangtua di luar sana, agar lebih berhati-hati dan selektif lagi dalam menitipkan anak saat sedang mengurusi kepentingannya. Peristiwa itu bukan hanya menyakiti fisik seorang anak, tapi juga menyiksa mentalnya. Tekanan hingga trauma akan menghantui hari-hari si anak, akibatnya pun anak akan sulit beradaptasi dan susah untuk dekat orang baru.
Cana memang sekarang sudah bisa yersenyum kembali, tapi siapa yang tahu kalau dia menyimpan kesedihan dan ketakutan di hatinya. Peristiwa yang menimpa Cana semoga tidak lagi terulang kembali dan pelaku bisa segera ditindaklanjuti dengan hukuman yang pantas serta adil bagi semua pihak. (*)