Sabtu, Mei 9, 2026

Ratusan Gerai Alfamart ‘Kukud,’ Akankah Menular ke Gerai Lainnya?

MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart) mengambil langkah drastis sepanjang tahun ini dengan menutup 400 gerai di berbagai lokasi. Langkah ini diambil akibat melonjaknya biaya sewa yang tidak seimbang dengan penjualan yang menurun.

Corporate Affairs Director Alfamart, Solihin, menjelaskan bahwa perusahaan lebih memilih fokus pada efisiensi ketimbang mempertahankan gerai yang merugi.

“Kenapa ditutup? Ya pasti ada sebabnya. Pertama, harga sewa memang naiknya luar biasa,” ujar Solihin kepada wartawan, Selasa (17/12).

Strategi Alih Fokus: Tutup Lama, Buka Baru

Menurut Solihin, dibandingkan memaksakan mempertahankan toko dengan kinerja minim, Alfamart memilih membuka gerai baru di lokasi yang lebih strategis dan berpotensi menguntungkan.

“Toko-toko yang tidak untung, apalagi karena sewa yang naik, ya buat apa kita pertahankan? Kalau bisnis tidak untung atau hanya pas-pasan, lebih baik kita cari tempat yang lebih feasible,” tambahnya.

Walau menutup 400 gerai, Alfamart tetap agresif memperluas jaringannya dengan membuka lebih dari 1.000 gerai baru. Hingga akhir tahun ini, total jumlah gerai Alfamart mencapai 20 ribu unit.

Fenomena Serupa di Matahari Department Store

Penutupan gerai tidak hanya terjadi pada Alfamart. Ritel besar lainnya, seperti PT Matahari Department Store Tbk, turut menutup 13 gerai pada tahun ini. Langkah ini bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap kinerja bisnis perusahaan.

“Saat ini, Matahari sedang memantau kinerja 20 gerai yang ada dalam watchlist dan berencana menutup 13 gerai tahun ini,” demikian pernyataan resmi Matahari Department Store.

Matahari menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi penguatan jaringan gerai. Selain menutup gerai berkinerja rendah, perusahaan tengah berfokus pada pengembangan gerai potensial dan renovasi gerai strategis.

Efisiensi Jadi Kunci di Tengah Persaingan Ketat

Penutupan ratusan gerai ritel oleh Alfamart dan Matahari mengindikasikan adanya pergeseran strategi bisnis ritel di tengah tantangan biaya operasional yang kian melonjak. Tingginya biaya sewa, daya beli masyarakat yang belum pulih, serta perubahan pola belanja menjadi tantangan yang harus dihadapi industri ritel modern.

Namun, langkah efisiensi ini diimbangi dengan pembukaan gerai-gerai baru yang dianggap lebih prospektif. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan ritel masih optimis terhadap pertumbuhan, asalkan dapat menemukan lokasi yang strategis dan menekan biaya operasional.

Meski demikian, fenomena ini memunculkan pertanyaan: apakah langkah serupa akan diikuti oleh gerai-gerai ritel lainnya di Indonesia? (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.