Jumat, Juni 5, 2026

Mahasiswa RI di Belanda Tewas Saat Dampingi Pejabat DPR, BI, dan OJK di Austria

Seorang mahasiswa asal Indonesia, Muhammad Athaya Helmi Nasution (18), ditemukan meninggal dunia saat bertugas mendampingi rombongan pejabat Indonesia yang tengah melakukan kunjungan kerja ke Wina, Austria. Athaya tercatat sebagai mahasiswa Universitas Hanze, Groningen, Belanda, sekaligus anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Groningen.

Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kementerian Luar Negeri RI, Judha Nugraha, menjelaskan hasil otopsi menunjukkan penyebab kematian Athaya diduga akibat kejang.

“KBRI Wina telah melakukan koordinasi dengan otoritas setempat dan diperoleh informasi bahwa berdasarkan hasil otopsi, almarhum meninggal karena dugaan kejang (suspected seizure),” kata Judha, Selasa (9/9/2025).

Athaya meninggal pada Rabu (27/8/2025), tepat di hari terakhir rangkaian kunjungan kerja pejabat RI. Menurut keterangan, ia bertugas sebagai pendamping sejak Senin (25/8) hingga Rabu (27/8), mengawal pertemuan yang melibatkan pejabat dari DPR, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bank Indonesia. Penugasan tersebut diberikan oleh panitia dari kalangan mahasiswa, sementara keseluruhan kegiatan dikelola event organizer (EO) asal Indonesia.

Judha menyebut Kemenlu RI telah membantu pengurusan dokumen dan pemulasaraan jenazah.

“Koordinasi dengan otoritas setempat dan sekaligus pemulasaraan jenazah bersama dengan Komunitas Islam Indonesia di Wina. Sesuai permintaan keluarga, jenazah Almarhum telah dipulangkan ke Tanah Air pada tanggal 4 September 2025,” ujarnya.

Namun, keterangan berbeda datang dari PPI Belanda. Dalam pernyataannya, PPI menulis Athaya meninggal akibat heatstroke atau sengatan panas yang berujung pada stroke. Mereka juga menyoroti minimnya tanggung jawab penyelenggara acara.

“Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya salah satu anggota kami, Muhammad Athaya Helmi Nasution yang merupakan anggota PPI Groningen dalam rangka mendampingi sebuah kunjungan tertutup yang melibatkan pejabat publik (DPR, OJK, dan Bank Indonesia), pada tanggal 25–27 Agustus 2025 di Wina, Austria,” tulis PPI di Instagram, Selasa (9/9).

PPI Belanda mengecam sikap event organizer dan koordinator liaison officer (LO) yang dianggap abai. Mereka menilai, meski Athaya wafat, acara pejabat tetap berjalan normal.

“Alih-alih mengunjungi tempat penginapan saat almarhum menghembuskan napas terakhir, acara kunjungan kerja terus bergulir di mana pihak EO justru terus sibuk mengurus persiapan acara makan-makan bersama pejabat publik di restoran,” tulis PPI.

Lebih jauh, PPI juga menyinggung adanya indikasi penutupan informasi soal kegiatan yang diikuti Athaya.

“Pihak keluarga juga menyampaikan adanya indikasi penutupan keterangan kegiatan apa dan siapa yang dipandu almarhum di Wina dari pihak EO,” tambahnya.

Kematian Athaya memunculkan seruan agar mahasiswa Indonesia tidak lagi dilibatkan secara serampangan dalam kegiatan pendampingan pejabat publik tanpa perlindungan jelas. PPI Belanda menegaskan kasus ini harus menjadi perhatian serius agar kejadian serupa tidak terulang.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.