Presiden RI Prabowo Subianto kembali mendorong penguatan bahasa asing di dunia pendidikan. Saat bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron di Paris, Kamis (28/5/2026), Prabowo menyatakan telah menginstruksikan agar Bahasa Perancis dipelajari di seluruh jenjang pendidikan di Indonesia.
“Sekarang, saya sudah instruksikan bahwa semua tingkatan sekolah-sekolah Indonesia harus belajar Bahasa Perancis, melihat perkembangan dunia ke depan,” ujar Prabowo.
Sebelumnya, pada Oktober 2025, Prabowo juga pernah mengusulkan Bahasa Portugis menjadi salah satu prioritas pendidikan saat menerima Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva.
“Sebagai bukti bahwa kami memandang Brasil sangat penting, saya telah memutuskan bahwa bahasa Portugis akan menjadi salah satu prioritas bahasa disiplin pendidikan Indonesia,” ujar Prabowo.
Selain itu, Prabowo juga pernah mendorong pembelajaran Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris melalui pemanfaatan papan interaktif digital di sekolah.
“Nanti kita ada studio pusat di Jakarta. Guru-guru terbaik, umpamanya Bahasa Inggris ya kita ambil native speaker, dia bisa mengajar ke semua yang perlu,” kata Prabowo.
“Bahasa Mandarin (juga) begitu, kita mau tambah anak-anak sekolah kita harus bisa Bahasa Inggris, Mandarin, dan beberapa bahasa asing. Mulai dari SD,” imbuh dia.
Wacana tersebut menuai pertanyaan dari DPR. Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani menilai pemerintah perlu menjelaskan arah kebijakan tersebut, mengingat usulan Bahasa Portugis sebelumnya belum menunjukkan tindak lanjut yang jelas.
“Untuk kejelasan wajib belajar Bahasa Perancis di sekolah, kami tentu akan meminta Kemendikdasmen menjelaskannya pada raker dengan kami nanti,” ujar Lalu.
“Karena sebelumnya juga sempat muncul wacana Bahasa Portugis, namun sampai sekarang belum terlihat tindak lanjut baik dari sisi road map, regulasi, maupun kesiapan implementasinya,” imbuh dia.
Pengamat pendidikan Ina Liem juga mengingatkan agar kebijakan pendidikan disusun secara matang dan realistis.
“Jangan sampai setiap kunjungan kenegaraan muncul pernyataan bahwa bahasa negara tertentu akan dipelajari secara luas, tetapi pada akhirnya tidak pernah benar-benar dijalankan,” kata Ina.
“Jadi pertanyaannya bukan apakah Bahasa Perancis bagus atau tidak. Tentu bagus. Pertanyaannya: apakah menjadikannya wajib untuk seluruh siswa Indonesia merupakan prioritas yang paling realistis dan paling berdampak saat ini?” kata dia.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat menyatakan pihaknya akan mengkaji arahan tersebut.
“Kami akan pelajari dan menindaklanjuti arahan Bapak Presiden,” ujar Atip.
Hingga saat ini, pemerintah baru memastikan Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran wajib mulai tahun ajaran 2027/2028 untuk siswa kelas 3 SD.