Mengapa Mama Yasinta berbalik arah? Benarkah beliau kini mendukung sepenuhnya PSN yang mengorbankan tanah kelahirannya?
Kerusakan alam seperti deforestasi tentu menjadi menjadi salah satu dampak besar dari pelaksanaan PSN. Demi mencapai ketahanan pangan, mengapa harus menumbalkan habitat hewan dan tumbuhan yang menjadi kekayaan besar kita? Apakah mereka tidak sama pentingnya dengan ketahanan pangan yang sedang diupayakan pemerintah?
Tentu kebingungan itu terus berputar di kepala setiap masyarakat. Realitanya terangkum di film dokumenter Pesta Babi, dimana Mama Yasinta menjadi salah satu saksi mata di sana yang membeberkan kerusakan di lingkungan tempat tinggalnya.
Tapi itu tidak bertahan lama, isu semakin liar mengatakan bahwa ada intimidasi dan sejenisnya. Kebenarannya tentu Mama Yasinta yang lebih tahu. Kini Mama Yasinta bukan hanya mendukung PSN saja tapi juga membawa film dokumenter yang sudah ditonton masyarakat Indonesia ke ranah hukum
Perubahan sikap tokoh adat Marind-Anim dari Merauke, Yasinta Moiwend, memunculkan tanda tanya publik.
Setelah sebelumnya dikenal kritis terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan, Mama Sinta kini menyatakan dukungan terhadap proyek yang masih menuai perdebatan terkait dampaknya terhadap masyarakat adat dan lingkungan.
Perubahan itu mencuat bersamaan dengan langkah hukum yang ia tempuh terhadap pembuat film Pesta Babi. Melalui kuasa hukumnya, TS Hamonangan Daulay, Mama Sinta menilai dirinya dimanfaatkan tanpa izin dalam film tersebut.
“Seorang anak bangsa, berusia 62 tahun, dieksploitasi tanpa perizinan yang sah dan pengakuan yang sah dari Mama Sinta,” tegas Hamonangan.
Mama Sinta mengaku terkejut saat melihat wajahnya muncul dalam pemutaran film yang sebelumnya ia kira merupakan acara adat.
“Yang ajak saya ke Jayapura untuk kegiatan (nonton Pesta Babi) itu Bang Tigor. Jadi setelah selesai kegiatan, dia ajak kita nonton film Pesta Babi. Jadi saat itu saya tahunya mau potong babi betulan. Ternyata kita naik Susteran Maranatha, yang diputar ternyata film Pesta Babi,” tutur Mama Sinta.
“Di situ saya lihat sendiri, saya saksikan sendiri. Kenapa wajah saya ditampil di depan banyak orang tanpa seizin dari saya. Itu yang saya sakit hati dan kecewa dengan keluarga saya,” keluhnya.
Di sisi lain, Mama Sinta mengaku telah meninggalkan kelompok pendamping sebelumnya dan memilih mencari peluang kerja melalui perusahaan yang beroperasi di wilayahnya.
“Sekarang saya tidak bergabung lagi dengan LBH mereka, saya sudah ambil keputusan sendiri. Jadi saya mau cari pekerjaan di perusahaan, cari pekerjaan karena rumah saya ingin direhab karena sudah tidak layak lagi,” ungkapnya.
Ia juga mengaku tidak mendapatkan banyak manfaat selama mengikuti berbagai kegiatan advokasi.
“Yang saya dapat cuma capeknya saja. Mereka fasilitasi, jadi kalau mereka fasilitas terus uang duduknya cuma Rp2 juta, Rp1,5 juta itu saja yang kami dapat dari mereka, LBH Pusaka,” tuturnya.
Pernyataan itu memunculkan pertanyaan mengenai alasan di balik perubahan sikapnya terhadap PSN yang masih menjadi kontroversi. Kini, Mama Sinta berharap proyek tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
“Harapan kami cuma ke pemerintah, lewat pemerintah kerja sama dengan perusahaan dengan masyarakat, maka itu kami mau dukung, perusahaan boleh lanjut sampai kami bisa menikmati hasil yang perusahaan sudah berikan,” tutup Mama Sinta.