Selasa, Juli 14, 2026

Pabrik Sekarat dan Ancaman PHK Massal, Ekonom Senior Skakmat Menperin: Sebaiknya Mundur!

Kinerja sektor manufaktur nasional kembali menjadi sorotan setelah Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke level 46,9 pada Juni 2026

Angka tersebut menunjukkan aktivitas industri memasuki fase kontraksi dan memicu kritik terhadap kebijakan pemerintah, termasuk desakan agar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mundur dari jabatannya.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurrahman, mengatakan penurunan PMI dari 50,0 pada Mei menjadi 46,9 pada Juni mencerminkan melemahnya aktivitas produksi di sektor manufaktur.

“PMI manufaktur turun tajam dari 50,0 pada Mei 2026 menjadi 46,9. Menunjukkan kontraksi produksi yang bisa disebabkan turunnya permintaan. Meski ekonomi kuartal I tumbuh 5,6 persen, belum sepenuhnya mengungkit aktivitas industri,” ujar Rizal, Selasa (14/7/2026).

Menurut Rizal, kontraksi tersebut menjadi sinyal bahwa sektor manufaktur masih menghadapi tekanan berat. Jika kondisi ini berlanjut, pelaku industri berpotensi mengurangi kapasitas produksi, memangkas jam kerja, hingga melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Ia memperkirakan prospek manufaktur pada semester II 2026 masih akan menghadapi berbagai tantangan. 

Sejumlah faktor yang dinilai akan menentukan pemulihan sektor ini antara lain daya beli masyarakat, stabilitas nilai tukar rupiah, biaya energi, ongkos logistik, serta kelancaran pasokan bahan baku.

Rizal juga menilai pelemahan rupiah dan ketidakpastian ekonomi global berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku. Sementara di sisi lain, produsen kesulitan menaikkan harga jual karena daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.

“Tanpa perbaikan permintaan dan kepastian kebijakan, pelaku industri cenderung menahan ekspansi, investasi, maupun penambahan tenaga kerja,” katanya.

Selain pasar domestik, sektor ekspor juga dinilai belum cukup kuat menopang industri. Meski ekspor Indonesia pada Januari-Mei 2026 masih tumbuh 3,02 persen secara tahunan menjadi US$115,36 miliar, Rizal mengingatkan perlambatan ekonomi global dapat membatasi permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia.

Karena itu, ia mendorong pemerintah mempercepat diversifikasi pasar ekspor sekaligus memperkuat industri manufaktur bernilai tambah agar tidak bergantung pada komoditas maupun pasar tertentu.

Sementara itu, ekonom senior Indef sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menilai penurunan PMI menjadi bukti melemahnya performa industri manufaktur nasional. Ia bahkan menyatakan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sebaiknya mundur dari jabatannya.

“Kalau angkanya di bawah 50 berarti tidak ada ekspansi industri manufaktur. Sama dengan deindustrialisasi. Saya setuju sebaiknya ya mundur,” tegas Didik.

Didik membandingkan kondisi Indonesia dengan Vietnam yang dinilai berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penguatan sektor industri dan kebijakan yang ramah investasi. 

Menurutnya, Indonesia perlu memperkuat sektor manufaktur agar kembali menjadi motor pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan daya saing di tengah perlambatan ekonomi global.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.