Kelangkaan BBM subsidi, khususnya solar, terus menjadi persoalan di sejumlah wilayah Sumatera. Antrean panjang kendaraan di berbagai SPBU di Sumatera Selatan (Sumsel) dan Sumatera Utara (Sumut) telah berlangsung sekitar satu bulan, membuat aktivitas masyarakat hingga distribusi barang ikut terganggu.
Kondisi tersebut bahkan memakan korban jiwa. Seorang sopir truk berusia 50 tahun ditemukan meninggal dunia saat berada di dalam kendaraan ketika mengantre solar di SPBU Jalan Lintas Timur Palembang–Jambi, Kabupaten Banyuasin, Sumsel. Polisi menduga korban meninggal akibat kelelahan setelah menunggu dalam antrean panjang.
Di sejumlah SPBU, para pengendara harus menghabiskan waktu berjam-jam demi mendapatkan solar subsidi. Di Medan, antrean panjang disebut berdampak pada penghasilan pengemudi ojek daring, taksi online, hingga sopir angkutan antarkota karena waktu mereka banyak tersita untuk mengantre.
Sementara di Palembang dan sejumlah wilayah Sumsel, sopir bus antarkota hingga pelaku usaha mengaku mengalami kerugian akibat sulitnya memperoleh BBM. Salah satunya Baim, pedagang pakan ternak, yang harus berangkat sejak pagi dari Palembang untuk mendapatkan solar di SPBU Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
Baim mengaku mulai mengantre sekitar pukul 18.00 WIB dan harus menunggu hingga 3–4 jam karena banyak kendaraan bertonase besar ikut mengantre. Kondisi tersebut membuat jadwal distribusi terganggu dan menambah biaya operasional.
“Kalau berpotensi terjadi keributan, saya lebih memilih mengalah dan memberikan antrean saya, daripada bentrok dan urusan jadi panjang,” ujar Baim.
Ia memilih tetap mengantre di SPBU dibanding membeli solar eceran karena biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar. Menurutnya, selisih harga solar eceran dapat membuat biaya tambahan mencapai jutaan rupiah dalam beberapa kali perjalanan.
Persoalan distribusi BBM subsidi juga menjadi sorotan pemerintah daerah. Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menduga adanya penyalahgunaan barcode MyPertamina serta praktik sindikat dalam distribusi yang ikut memperparah antrean.
Namun, Pertamina Patra Niaga menyatakan stok solar subsidi di Sumsel sebenarnya masih sesuai dengan kuota yang telah ditetapkan. Menurut Pertamina, persoalan utama berada pada pengawasan distribusi agar penyaluran BBM subsidi tepat sasaran.
Di Sumatera Utara, Pertamina juga menyebut adanya penyesuaian operasional armada distribusi yang berdampak terhadap kelancaran pasokan BBM di sejumlah wilayah.
Anggota Komisi XII DPR RI Yulian Gunhar meminta pemerintah melalui Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) segera melakukan evaluasi terhadap distribusi BBM subsidi di Sumsel. Ia juga mendorong penambahan kuota Bio Solar dan Pertalite untuk mengatasi antrean yang terus berulang.
Menurut Gunhar, persoalan antrean tidak hanya disebabkan distribusi, tetapi juga ketidakseimbangan antara kuota dan kebutuhan masyarakat. Berdasarkan data Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, kuota Bio Solar Sumsel 2026 mencapai 629.509 kiloliter (KL), namun dengan tingkat konsumsi saat ini stok diperkirakan habis lebih cepat.
Sumsel diperkirakan membutuhkan tambahan kuota sekitar 437.400 KL agar pasokan tetap tersedia hingga akhir tahun. Gunhar menilai pemerintah perlu segera mengambil keputusan agar antrean tidak semakin panjang dan aktivitas ekonomi masyarakat tidak terus terganggu.
Pengamat kebijakan publik Universitas Sriwijaya (Unsri), M. Husni Thamrin, menilai masyarakat membutuhkan langkah nyata, bukan sekadar saling menyalahkan antarinstansi.
“Kalau mafia benar ada, bongkar. Kalau kuota memang tidak realistis, perjuangkan tambahan dengan data. Kalau distribusi bocor, tutup kebocorannya. Yang tidak boleh adalah semua pihak saling lempar tanggung jawab sementara masyarakat tetap antre dan ekonomi daerah terganggu,” katanya.
Hingga kini, pemerintah bersama Pertamina masih melakukan penanganan agar distribusi BBM subsidi kembali normal. Masyarakat berharap solusi yang diberikan tidak hanya bersifat sementara, tetapi mampu menyelesaikan persoalan antrean solar yang telah berlangsung selama berminggu-minggu.