Sabtu, Juni 6, 2026

MUI Menyatakan Vaksi Sinovac Halal dan Suci

JAKARTA – Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan vaksin Covid-19 produksi Sinovac halal dan suci. Akan tetapi, fatwa kehalalan vaksin ini belum final karena masih menunggu izin keamanan dan efektivitas dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) .

Di Indonesia, vaksin yang diproduksi perusahaan asal China itu didaftarkan sebanyak tiga jenis yakni Coronavac, Vaccine Covid-19, dan Vac2 Bio. Ketiganya dinyatakan halal setelah Komisi Fatwa menggelar rapat pleno secara tertutup di Hotel Sultan, Jakarta, Jumat (8/1/21).

“Yang terkait aspek kehalalan, setelah dilakukan diskusi panjang penjelasan auditor, rapat Komisi Fatwa menyepakati bahwa vaksin Covid-19 yang diproduksi Sinovac Lifescience yang sertifikasinya diajukan Biofarma suci dan halal,” kata Ketua MUI Bidang Fatwa KH Asrorun Niam Sholeh seusai rapat pleno.

Menurut Asrorun, meskipun sudah halal dan suci, namun fatwa MUI belum final karena masih menunggu keputusan BPOM terkait keamanan (safety), kualitas (quality), dan kemanjuran (efficacy).

“Ini akan menunggu hasil final kethoyibannya. Fatwa utuhnya akan disampaikan setelah BPOM menyampaikan mengenai aspek keamanan untuk digunakan, apakah aman atau tidak, maka fatwa akan melihat,” ujarnya.

Pada kesempatan terpisah, Kepala BPOM Penny Lukito mengatakan, pihaknya telah bekerja sama dengan MUI yang akan menerbitkan fatwa halal. Menurut Penny, BPOM melakukan audit bersama terkait kehalalan dan memberikan data mutu mengenai bahan baku yang sifatnya tidak halal.

BPOM, kata Penny, tengah mengumpulkan data untuk melihat efektivitas vaksin virus korona Covid-19 buatan Sinovac. Dia berjanji segera memproses Emergency Used Authorization (EUA) atau izin penggunaan darurat vaksin.

Asrorun menambahkan, pada rapat yang diikuti pimpinan dan anggota Komisi Fatwa MUI Pusat tersebut, membahas penetapan kesesuaian syariah Vaksin Covid-19 yang diproduksi oleh Sinovac Lifescience. Dia menegaskan, yang dibahas pada rapat pleno tersebut adalah produk vaksin Covid-19 khusus dari Sinovac dan bukan yang lain. “Pembahasan diawali dari audit dari auditor,” ungkapnya.

Komisi Fatwa MUI menetapkan, kehalalan vaksin tersebut dipastikan setelah mengkaji secara mendalam laporan hasil audit dari tim MUI. Tim tersebut terdiri atas Komisi Fatwa MUI Pusat dan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) MUI. Tim tersebut sebelumnya berpengalaman dalam proses audit Vaksin MR. Mereka sebelumnya tergabung dalam tim Kementerian Kesehatan, Biofarma, dan BPOM sejak Oktober 2020.

Tim juga telah mengunjungi pabrik Sinovac dan mengaudit kehalalan vaksin di sana. Sepulang ke Indonesia, tim sempat menunggu beberapa dokumen yang kurang dan akhirnya diterima secara lengkap oleh tim MUI pada Selasa (05/01) melalui surat elektronik. Pada hari yang sama, tim merampungkan audit lapangan di Biofarma yang nantinya akan memproduksi vaksin ini secara masal. Kemudian, tim ini melaporkan hasil audit tersebut kepada Komisi Fatwa MUI Pusat untuk dilakukan kajian keagamaan menentukan kehalalan vaksin.

Di bagian lain, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berharap masyarakat mau divaksinasi Covid-19. Menurutnya, jika menolak maka akan merugikan diri sendiri dan orang lain.

“Kalau ada yang tidak mau divaksin tidak hanya merugikan diri sendiri tapi juga merugikan orang lain,” katanya saat penyaluran bantuan modal kerja di Istana Kepresidenan Bogor, kemarin.
Dia mengatakan, target vaksinasi mencapai 70% dari penduduk Indonesia atau sekitar 182 juta orang. Hal ini bertujuan untuk mencapai kekebalan komunal atau herd immunity.

Seperti diberitakan sebelumnya, pemerintah berencana mulai menyuntikkan vaksin Covid-19 pada 13 Januari 2020, pekan depan. Vaksin Sinovac yang berasal dari China itu telah didistribusikan ke sejumlah daerah.

Presiden Jokowi sendiri menyatakan siap menjadi orang pertama yang mendapatkan vaksin Covid-19. Hal itu untuk meyakinkan masyarakat bahwa vaksin tersebut aman dan halal digunakan.

Selain Jokowi, kelompok masyarakat yang akan mendapatkan vaksin pada gelompang pertama adalah tenaga kesehatan, pejabat publik di pusat dan daerah serta tokoh agama.

Untuk memenuhi vaksinasi Covid-19, Pemerintah telah mendatangkan 3 juta vaksin Sinovac yang dikirim dalam dua penerbangan. Pertama pada 6 Desember 2020 sebanyak 1,2 juta vaksin dan pada 31 Desember 2020 sebanyak 1,8 juta dosis.

Jokowi menjelaskan, dalam pelaksanannya setiap orang akan disuntik vaksin dua kali. Pertama pada Januari ini sebanyak 5,8 juta orang.

“Total nantinya yang disuntik 182 juta. Disuntik dua kali. Berarti vaksinnya butuhnya dua kali 182 juta,” ucap Jokowi.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.