Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia memuji Presiden Prabowo Subianto sebagai presiden pertama sejak era Orde Baru yang meresmikan proyek Refinery Development Master Plan milik PT Pertamina.
Bahlil menyebut peresmian RDMP terakhir dilakukan pada 1994 pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, dan baru kembali diresmikan 32 tahun kemudian oleh Presiden Prabowo pada 2026.
Menurut Bahlil, peresmian tersebut mencerminkan keseriusan pemerintah dalam menjalankan visi pembangunan nasional, khususnya penguatan sektor energi dan peningkatan produksi minyak dan gas bumi.
Ia mengatakan, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo terus mendorong berbagai terobosan untuk meningkatkan lifting migas nasional.
Upaya tersebut meliputi pengaktifan sumur-sumur idle, optimalisasi sumur tua dengan teknologi, percepatan tender lapangan baru, serta penerapan kebijakan mandatori biodiesel B40.
Bahlil mengungkapkan, setelah 10 tahun lifting minyak tidak pernah mencapai target, pada 2026 lifting minyak Indonesia berhasil mencapai bahkan melampaui target APBN sebesar 600,5 ribu barel per hari.
Capaian tersebut meningkat dibandingkan tahun 2024 yang hanya berada di kisaran 580 ribu barel per hari, atau naik sekitar 25 ribu barel per hari.
Ia menegaskan, pembangunan infrastruktur energi terintegrasi Pertamina merupakan hasil kolaborasi BUMN, Pertamina, serta kementerian dan lembaga terkait guna mewujudkan swasembada dan kedaulatan energi nasional.