Minggu, Juli 5, 2026

Buya Yahya Menepis Mitos Muharram atau Sura sebagai Bulan Sial

MELIHAT INDONESIA – Bulan Sura, yang dikenal dalam kalender Jawa, bersamaan dengan bulan Muharram dalam kalender Islam. Muharram adalah salah satu bulan suci dalam Islam, di mana umat Muslim dianjurkan untuk meningkatkan ibadah, doa, dan perbuatan baik.

Muharram memiliki makna historis dan spiritual yang dalam, termasuk peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah serta peringatan hari Asyura, yang jatuh pada tanggal 10 Muharram, sebagai hari penting dalam sejarah Islam.

Dalam tradisi Jawa, bulan Sura juga dianggap sebagai bulan sakral yang penuh dengan nilai-nilai spiritual. Banyak masyarakat Jawa memperingati bulan ini dengan berbagai ritual adat seperti doa bersama, tahlilan, dan upacara bersih desa.

Kepercayaan akan keberkahan dan kesucian bulan Sura ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh agama dan budaya dalam kehidupan masyarakat Jawa, yang terintegrasi dalam penghormatan terhadap bulan Muharram dalam Islam.

Namun, ada yang beranggapan bahwa bulan Sura adalah bulan sial atau petaka. KH Yahya Zainul Ma’arif, atau Buya Yahya, menolak pandangan ini.

Ia menjelaskan bahwa Muharram, yang kebetulan bertepatan dengan bulan Sura bagi orang Jawa, adalah salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Ia menegaskan bahwa Muharram adalah bulan haram yang penuh rahmat dan kemuliaan, bukan bulan petaka sebagaimana sebagian orang mungkin meyakininya.

Buya Yahya menegaskan bahwa keyakinan tentang hari atau bulan yang membawa sial adalah suudzon (berburuk sangka) kepada Allah. Menurutnya, semua bulan dalam Islam adalah baik dan mulia. Menganggap bulan tertentu sebagai bulan yang membawa sial atau petaka adalah pandangan yang salah dan tidak berdasar dalam ajaran Islam.

“Semua hari adalah baik untuk beribadah,” tegas Buya Yahya dalam unggahan di kanal YouTube @buyayahyaofficial.

“Hari yang jelek hanyalah hari di mana kita melakukan kemaksiatan,” tambahnya.

Selain itu, Buya Yahya juga mengkritik pandangan beberapa pedagang yang mengeluh tentang penurunan penjualan di bulan Muharram, menganggap bulan tersebut sebagai bulan yang sempit atau tidak menguntungkan.

Buya menegaskan bahwa bulan Muharram adalah bulan baik, dan tidak seharusnya ada anggapan negatif terhadap bulan tersebut.

“Ini adalah pandangan yang salah dan sering kali berakar dari kepercayaan dukun yang tidak berdasar,” jelas Buya Yahya.

Buya Yahya mengajak umat Islam untuk memanfaatkan bulan Muharram dengan melakukan berbagai aktivitas positif dan ibadah.

Ia mengingatkan bahwa Muharram adalah bulan istimewa, salah satunya adalah dengan menjalankan puasa.

“Puasa Muharram adalah sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadan,” kata Buya Yahya, menekankan keutamaan ibadah puasa di bulan ini.

Dengan berpuasa di bulan Muharram, umat Islam bisa mendapatkan pahala yang besar dan mendekatkan diri kepada Allah.

Dalam penjelasannya, Buya Yahya juga menyebut bahwa keyakinan tentang bulan Muharram sebagai bulan yang membawa sial adalah buah dari kepercayaan yang tidak benar. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.