Kamis, April 23, 2026

Hati-Hati Di Jalan

Potongan lirik lagu Tulus ‘Hati-hati di jalan’ adalah fenomena yang menggambarkan sebuah hubungan yang terjalin tanpa kepastian pada ujungnya. Anggapan akan berakhir Bersama,  dipatahkan oleh beberapa hal yang tidak seirama satu sama lain.

Bukan lagi kecocokan di awal perjalanan, namun bagaimana lika-liku seseorang menjalani harinya dengan orang yang dipercayai akan menjadi masa depannya. Kecocokan itu hanya bonus, menciptakan keseimbangan di tengah crowdednya cobaan hidup adalah salah satu penilaian untuk menentukan masa depan.

‘Hati-hati di jalan’ mulai merebak didendangkan setiap orang dimanapun dan kapanpun, asal suasananya mendukung. Seperti situasi hari ini, saat sang gubernur DKI Jakarta, Anis Baswedan, melepas jabatannya.

Hm… Pak Anis ini memang meninggalkan banyak sekali cerita untuk ibu kota. Sedih pasti saat sang gubernur pamit, ‘hati-hati di jalan’ pun seharusnya dinyanyikan dengan perasaan penuh ketidak relaan.

Namun beda halnya dengan sebagian besar rakyat negeri ini. Di hari terakhir Pak Anis menduduki singgasananya, sebagian masyarakatnya justru merasa senang. Bagaimana tidak senang, kalau pembual terbaiknya, versi LBH Jakarta, sudah lengser dari jabatannya.

Anis memang terkenal dengan huru-haranya, dirinya seorang gubernur yang tindak-tanduknya menjadi pusat perhatian, selalu berhasil membuat kecewa warganya. Mereka mempertanyakan kinerja Anies selama satu periode ini.

Bukannya mereka tidak lihat kinerjanya Anies, tapi yang mereka jumpai hanyalah huru-hara sang gubernur yang berhasil membuat menganga warganya. Tentu mereka merasa dipermainkan.

Coba menilik sekilas tentang janji kampanyenya 5 tahun yang lalu. Mana yang katanya akan memberi fasilitas untuk pendidikan anak-anak Jakarta? Jakarta masih menjadi kota dengan angka anak putus sekolah tertinggi di negara ini.

Menyedihkan bukan, di saat gubernurnya adalah mantan menteri pendidikan dan kebudayaan, rakyatnya bukannya sejahtera karena kebutuhan pendidikannya terpenuhi, justru banyak anak-anak Jakarta yang menjadi korban putus sekolah karena biaya hidup yang mencekik kehidupan mereka.

Jangankan sekolah, makan saja mereka harus memutar otak untuk mendapatkan sesuap nasi. Bagaimana dengan tujuan bangsa untuk mencerdaskan rakyatnya, kalau angka putus sekolah saja di ibu kota negara ini mecapai tingkatan tertinggi.

DKI Jakarta bukan lagi kota yang tertinggal akan kecanggihan teknologi. Namun jika Anis tidak bisa menurunkan angka putus sekolah itu, bagaimana masyarakat Jakarta bisa mencapai kecanggihan teknologi itu?

Jika ditanya apa penyebab dari tingginya angka putus sekolah itu, tentu hanya sang gubernur yang bisa jawab. Karena bila dikaitkan dengan anggaran belanja DKI, tentu pendidikan sudah teranggar, mengingat APBD DKI paling banyak dari semua provinsi di Indonesia.

Mata tidak bisa berbohong, jika anggaran untuk pendidikan tidak digunakan dengan baik, kemungkinan besar anggaran itu digunakan untuk pembangunan beberapa infrastruktur yang dibangun pak gubernur.

Banyaknya pembangunan infrastruktur baru yang dilakukan Anis, dari yang tidak penting hingga tidak matang perencanaannya. JIS dan Formula E adalah dua proyek besar yang menelan trilyunan rupiah. Beberapa dananya datang dari sponsorship, namun APBD tetap keluar banyak untuk pengerjaan dua proyek itu.

Dan dari sisi efektifitas penggunaan juga dinilai tidak tinggi, cenderung lebih rendah. Formula E hanya untuk ajang bergengsi yang penyelenggaraannya pun penuh kontroversi, bahkan saat ini diduga adanya tindak pidana korupsi di dalamnya.

Inisiator Formula E adalah sang gubernur sendiri, dan sekarangpun Anis juga sedang tahap penyelidikan, karena diduga terlibat dalam kasus itu. Rakyatnya sedang kesusahan mencari makan, pendidikan anak-anak ibu kota pun terlantar, gubernurnya malah membuang-buang dana untuk Formula E.

Belum lagi JIS yang digadang sebagai stadion besar bertaraf internasional yang juga penuh masalah. Dari interior bangunannya dinilai PSSI tidak memenuhi standar FIFA untuk penyelenggaraan pertandingan sepak bola dunia.

Satu problemnya terletak pada lahan parkirnya yang hanya berkapasitas kurang lebih 1.500 kendaraan, tidak sebanding dengan massa yang memenuhi stadium itu. Entah mengapa sang gubernur tidak memfokuskan diri saja untuk memperbaiki kemacetan dan banjir yang menjadi masalah utama ibu kota.

Ingat bukan salah satu janji Anis adalah mengurangi polusi udara di DKI? bukannya berkurang kemacetan yang tidak bisa dikendalikan sang Gubernur juga berdampak pada tingkat polusi udara yang semakin menjadi-jadi.

Sampai-sampai pada bulan Juli 2022, DKI Jakarta menjadi kota kedua di dunia yang memiliki kualitas udara tercemar. Bagaimana ini, Jakarta harus menelan kepahitan karena gubernurnya.

Banyak pendukungnya membangga-banggakan tempat-tempat elok di Jakarta, memang betul salah satu janji Anis adalah membuat tempat wisata. Namun, tempat itu belum bisa dikatakan tempat wisata, jika hanya bisa digunakan sebagai spot foto, bagi segelintir orang saja.

Belum lagi, pengecatan dan pembangunan jalur untuk pengguna sepeda, beberapa kritikan dilayangkan untuk sang gubernur dan jajarannya mengenai hal itu. Pengamat tata kota dari universitas Trisakti, Nirwono, angkat bicara mengenai jalur sepeda permanen, mulai dari pembangunan hingga pengecatannya.

Dalam penuturannya, Nirwono menyarankan kembali pada Pemprov DKI kala itu, untuk mengevaluasi penggunaan jalur sepeda. Karena dirasa hal tersebut bukanlah kebutuhan DKI yang mendesak. Tak sungkan-sungkan Nirwono juga menyarankan agar sang gubernur menggerakkan masyarakat terlebih dahulu untuk menggunakan transportasi alternatif, seperti sepeda ini, sebelum membangun jalur sepeda secara permanen.

Justru waktu itu yang mendesak adalah memenuhi kebutuhan warga saat COVID-19 menyerang negara ini. Bukan pembangunan serta pengecatan jalur sepeda yang menghabiskan APBD milyaran hingga trilyunan rupiah. 

Tapi alasan yang tersampaikan justru bantuan COVID-19 diambilkan dari anggaran pembangunan rumah DP 0, sehingga target pembangunannyapun dari tahun ke tahun terus terpangkas.

Gamang sekali dengan gubernur satu ini, terkesan menghambur-hamburkan APBD banget, bukan?

Tidak berhenti di situ, hari-hari sebelum turunnya pak gubernur, ia digeruduk warga yang mengatasnamakan Koalisi Perjuangan Warga Jakarta (KOPAJA), mereka menggelar aksi demo di balai kota. Tuntutan dalam demo itu adalah pencabutan Pergub DKI 207/2016 yang melancarkan aksi penggusuran paksa. 

Masih mengungkit janji manis pak gubernur pada kampanye pilgub lalu, “Membangun tanpa menggusur”. Tidak hanya KOPAJA, pencabutan pergub itu juga digemakan oleh Koalisi Rakyat Menolak Penggusuran (KRMP).

Salah satu dari mereka menyampaikan bahwa di akhir jabatannya, Anis justru membiarkan ancaman praktik penggusuran paksa dapat terus gencar di DKI Jakarta dengan tidak mencabut Peraturan yang melegalkan penggusuran di ibu kota.

Itu hanya beberapa dari banyaknya janji Anis yang diutarakan saat kampanye pilgub lalu. Dan kini dengan bangganya tim Anis yang diberi nama Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) menyatakan kebungahannya, atas usaha mereka selama 5 tahun ini.

Ya, tim mereka patut diberi acungan jempol, tapi percepatan pembangunan tidak sebanding dengan kualitas bangunannya, kakak-kakak. Lihat atap halte Bundaran HI bocor saat peresmian, belum lagi JIS, stadium bertaraf internasional itu roboh pagarnya saat peresmian. Benar-benar harus dikaji ulang itu pembangunan infrastrukturnya.

Hari ini, hari terakhir Pak Anis menjabat sebagai gubernur, jadwalnyapun sudah terpadati dengan acara pamitan sana-sini. Semoga PR yang ditinggalkan Pak Anis bisa digarap baik oleh Pak Heru, penggantinya Pak Anis nanti.

Hati-hati di jalan Pak Anis, karena jalanmu setelah ini akan penuh gronjalan, tidak semulus perlintasan Formula E. Dan tentunya akan melalui banyak terjangan, seperti arus aliran banjir yang merobohkan dinding MTSN 19.

Nikmatul Sugiyarto

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.