Sabtu, Juli 18, 2026

Menulis dan Membaca, Dua Hal yang Tak Terpisahkan

MELIHAT INDONESIA, GOMBONG – Apa sih menulis dan membaca? Baru dengar saja mungkin sudah terasa membosankan. Siapa yang tidak tahu menulis dan membaca? Tentunya semua orang sudah tahu, kan, apa itu menulis dan membaca. Kedua kegiatan ini adalah sebuah cara untuk mengungkapkan dan memahami sebuah tulisan atau bacaan.

Pentingnya menulis dan membaca dapat kita lihat dari pandangan penulis terkenal, Tere Liye. Tere Liye adalah nama pena dari penulis bernama asli Darwis yang lahir di Kota Lahat, Sumatera Selatan, pada 21 Mei 1979. Dia memulai debut karya pertamanya pada tahun 2005 melalui novel berjudul Hafalan Shalat Delisa. Karya pertamanya ini sukses besar hingga diadaptasi menjadi film layar lebar. Kini, karyanya telah mencapai 50 judul buku dengan berbagai genre, mulai dari romansa, fantasi, hingga laga.

Menurutnya, menulis dan membaca memiliki manfaat yang sangat penting. Membaca dapat membuat seseorang berpikir lebih baik dan berdampak positif pada kemampuan menulis. Membaca novel, misalnya, mampu memotivasi dan menginspirasi seseorang untuk menciptakan karya berkualitas.

Menulis cerita adalah salah satu cara yang baik untuk memperkuat pemahaman. Namun, latihan adalah kunci utama untuk menjadi penulis yang baik. Untuk menulis novel, riset mendalam perlu dilakukan, baik melalui membaca buku maupun observasi lapangan.

Sepenting itukah menulis dan membaca? Memang, bagi sebagian besar orang, terutama remaja, menulis dan membaca dianggap membosankan, melelahkan, bahkan hanya membuang waktu. Namun, sebenarnya, menulis dan membaca memiliki banyak manfaat tersembunyi.

Aktivitas ini dapat menghilangkan stres, membantu kita menguasai bahasa, mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, dan membuat kita berpikir lebih terbuka. Selain itu, menulis memungkinkan penulis untuk terhubung dengan pembaca melalui karakter dalam sebuah cerita. Berbagai emosi dan pengalaman yang dituangkan dalam alur cerita bisa membangun hubungan emosional dengan pembaca.

Bagi sebagian orang yang tidak suka membaca, menulis sering dianggap sebagai hal yang remeh. Namun, bagi para penulis, menulis adalah napas hidup mereka. Menulis bukan sekadar hobi, bakat, atau cita-cita. Ini adalah cara untuk menuangkan emosi, pikiran, imajinasi, dan harapan yang selama ini dipendam.

Artikel ini bertujuan untuk memberikan motivasi kepada pembaca agar tidak meremehkan karya tulis seorang penulis. Menulis tidaklah semudah membaca. Membaca mungkin terlihat mudah, tetapi memahami isi tulisan dengan baik dan mencerna maknanya secara positif adalah tantangan tersendiri.

Setiap orang yang suka membaca belum tentu suka menulis, tetapi penulis sudah pasti adalah pembaca. Menulis tidak hanya menghasilkan karya tetapi juga mencakup perasaan, pemikiran, harapan, dan perjalanan pribadi penulis yang terkandung dalam karyanya.

Menulis adalah bagian penting dalam kehidupan. Dengan menulis, kita seolah berbicara pada diri sendiri melalui tulisan. Hal ini membantu kita memahami diri lebih dalam, bahkan bisa menjadi terapi untuk mengatasi stres dan menjaga kesehatan mental.

Menurut penelitian, menulis dan membaca memiliki dampak positif. Melansir laman resmi Cancer.net, peneliti dari Harvard Medical School membuktikan bahwa menulis dapat meningkatkan kesehatan mental, fisik, dan emosional. Penelitian tahun 2009 juga menunjukkan bahwa membaca memberikan efek relaksasi dan menurunkan stres.

Laman Healthline menyebutkan bahwa membaca selama 30 menit dapat menurunkan tekanan darah, detak jantung, dan perasaan tertekan. Selain itu, menulis secara teratur melatih fokus dan meningkatkan konsentrasi.

Apa bedanya orang yang suka membaca dan menulis dengan yang tidak? Perbedaannya cukup jelas. Orang yang gemar membaca dan menulis cenderung memiliki kemampuan komunikasi lebih baik, pengetahuan lebih luas, kosa kata lebih kaya, dan kreativitas lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak memiliki kebiasaan ini.

Sayangnya, tingkat literasi di Indonesia masih cukup rendah. Berdasarkan Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2022, Indonesia berada di peringkat ke-69 dari 80 negara. Skor rata-rata siswa Indonesia dalam membaca, matematika, dan sains berada di bawah rata-rata negara OECD.

Dibandingkan negara ASEAN lain, Indonesia hanya lebih baik dari Filipina dan Kamboja. Skor literasi Indonesia turun 12 poin, salah satu penyebabnya adalah learning loss akibat pandemi Covid-19.

Rendahnya tingkat literasi di Indonesia juga disebabkan generasi muda yang lebih suka bermain gadget daripada membaca atau menulis. Selain itu, kurangnya fasilitas pendidikan di daerah terpencil, kualitas pendidikan yang belum merata, dan minimnya dukungan keluarga turut menjadi faktor penghambat.

Kurangnya literasi berdampak buruk bagi masyarakat. Hal ini dapat menghambat pengembangan teknologi, meningkatkan angka kemiskinan, dan menurunkan kualitas sumber daya manusia.

Padahal, menulis dan membaca adalah bagian penting dari kehidupan. Oleh karena itu, jangan pernah meremehkan kegiatan ini. Mulailah kebiasaan membaca dan menulis dari diri sendiri, demi masa depan yang lebih baik.

Menulis dan membaca bukan hanya tentang menambah wawasan tetapi juga membangun karakter, memperluas perspektif, dan menjadi bekal menghadapi kehidupan sehari-hari.

Mari tingkatkan literasi demi Indonesia yang lebih baik!

(Penulis: Oleh: Nasywa Zabrina Doti, Peserta didik SMP Muhammadiyah 1 Gombong)

Disclaimer: Tulisan ini adalah hasil kreativitas siswa dalam rangka gerakan literasi sejak dini, kerjasama SMP Muhammadiyah 1 Gombong dengan MelihatIndonesia.id. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.