Minggu, Juli 5, 2026

Iman yang Menyembuhkan dan Membawa Damai


MELIHAT INDONESIA – Mimbar Katolik ini merupakan buah pikIr dari Normal Ginting (Pembimbing Masyarakat Katolik Kanwil Kemenag Kepulauan Riau). Diambil dan ditayangkan utuh dari laman Kemenag.go.id.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Kita semua tentunya mengakui bahwa kita adalah orang-orang yang beriman, kita meyakini Yesus Kristus sebagai Sang Juru selamat kita, walaupun mungkin pengalaman keimanan kita beraneka ragam. Suatu refleksi bagi kita, apakah iman kita benar-benar membawa kesembuhan dan damai sejati dalam hati dan kehidupan kita.

Bacaan Injil hari ini, Markus 5:21-43 bercerita tentang dua kisah kesembuhan, yang pertama kisah kesembuhan perempuan yang menderita pendarahan selama dua belas tahun dan kedua yakni kisah kesembuhan putri Yairus. Yairus dan wanita yang menjamah Yesus menampakkan keberanian dan kerendahan hati. Para murid dan orang banyak sempat mengejek Yesus karena Yesus dianggap aneh dalam menanggapi kedua situasi tersebut.

Murid-murid Yesus merasa aneh ketika Yesus mengatakan bahwa Dia mengetahui bahwa seseorang telah menyentuh-Nya (wanita yang mengalami pendarahan) padahal saat itu banyak orang berdesak-desakkan di sekitar-Nya; dan kemudian para pelayat juga merasa bingung ketika Yesus menyatakan bahwa putri Yairus hanya sedang tidur, padahal mereka mengetahui bahwa gadis kecil itu sudah wafat. Ternyata pernyataan Yesus tidak selalu mudah untuk dimengerti oleh para murid-Nya dan orang banyak, termasuk kita sebagai para pengikut-Nya.

“Yesus berbalik di tengah orang banyak dan berkata, ‘Siapa yang menjamah Aku?’…. Dia memegang tangannya dan berkata kepadanya, ‘Talitha kum,’ yang berarti “Gadis kecil bangun!” (Markus 5:30b,41). Ada perbedaan dalam proses penyembuhan sang wanita dan putri Yairus. Wanita tersebut secara sadar telah menjamah Yesus sendiri, Yesus tidak perlu menjangkau dan menyentuh wanita tersebut: iman sang wanita telah membawa kesembuhan baginya. Sedangkan untuk puteri Yairus, Yesus memegang tangan gadis kecil itu dan berbicara kepadanya. Hasilnya, baik sang wanita maupun puteri Yairus disembuhkan dan dipulihkan kehidupannya karena menyentuh dan disentuh oleh Yesus.

“Putriku, imanmu telah membuatmu sembuh” (Markus 5:34). Ayat ini menyatakan bagaimana iman merupakan modal utama dalam kesembuhan. Usaha Yairus dengan memohon agar Yesus menyelamatkan putrinya menunjukkan iman akan kuasa Yesus yang memberi penyembuhan Wanita yang sakit itu juga meyakini bahwa hanya dengan hal yang tampaknya sepele yakni menyentuh jubah Yesus, dia pasti akan sembuh. Antara iman dan penyembuhan sangat berkaitan erat. Dengan iman kita disembuhkan dan diselamatkan.

“Putriku, imanmu telah membuatmu sembuh; pergi dengan damai.” (Markus 5:34a). Dalam kisah penyembuhan dan pemulihan kehidupan ini, kedamaian muncul. Walaupun melalui proses yang berbeda, jika ada iman di sana maka tidak ada yang mustahil bagi Tuhan berkarya. Penyembuhannya lebih dari sekadar penyembuhan fisik. Wanita yang sakit dan puteri Yairus yang wafat telah menemukan keutuhan diri, nilai kedamaian dan harmoni dalam kehidupan barunya. Harkat hidup mereka dipulihkan.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Keyakinan iman membawa kita pada suasana damai, damai tentunya bukan berarti bebas dari segala masalah kehidupan, tetapi damai lebih berarti bahwa kehidupan kita diterima dengan ikhlas dengan segala suka dan duka, segala dinamika kehidupan karena kita yakin pada kerahiman Allah. Ia yang selalu ada dan menolong serta menyelamatkan kita. Semoga damai selalu beserta kita. Amin.

Normal Ginting (Pembimbing Masyarakat Katolik Kanwil Kemenag Kepulauan Riau)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.