Selasa, Mei 26, 2026

Ini Sederet Pembantu Prabowo Miliki Rapor Merah, Perlu Direshuffle?

MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Seratus hari pertama pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka telah menjadi momen evaluasi yang intensif. Lembaga riset Center of Economic and Law Studies (Celios) baru-baru ini merilis laporan bertajuk “Rapor 100 Hari Prabowo-Gibran” yang memberikan sorotan tajam terhadap kinerja para menteri kabinet. Dalam laporan tersebut, Celios menilai kinerja sejumlah menteri dengan pendekatan berbasis penilaian ahli (expert judgment), yang melibatkan 95 jurnalis dari 44 media berbeda.

Menteri dengan Kinerja Terburuk

Dari evaluasi tersebut, Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai mendapatkan nilai terendah, yakni minus 113 poin. Ia juga masuk dalam lima besar kategori “Menteri yang perlu di-reshuffle” dan “Menteri/Kepala Lembaga yang tak terlihat bekerja.” Celios menyebut, skor rendah ini mencerminkan kritik signifikan terhadap kebijakan di bidang HAM, yang dinilai tidak memiliki terobosan berarti.

Selain Pigai, Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi berada di posisi kedua dalam daftar menteri dengan kinerja terburuk. Disusul oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, dan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto.

Para Menteri dengan Kinerja Terbaik

Di sisi lain, Menteri Agama Nasaruddin Umar mencatatkan skor tertinggi dengan nilai mendekati 100. Celios mengapresiasi kebijakan Nasaruddin yang dianggap relevan dan memiliki dampak positif di sektor agama. Menyusul di bawahnya, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, serta Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Menariknya, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli juga mencatatkan kinerja yang solid dengan masuk dalam lima besar kategori menteri terbaik.

Pandangan Umum tentang Kinerja Pemerintahan

Secara umum, Celios memberikan nilai rata-rata 5 dari 10 untuk kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran selama 100 hari pertama. Sementara itu, Gibran sebagai wakil presiden mendapatkan skor lebih rendah, yakni 3 dari 10. Dari total responden studi, 7 persen menilai kinerja sangat buruk, 42 persen menilai buruk, 42 persen menilai cukup, dan hanya 8 persen yang memberikan penilaian baik.

“Secara keseluruhan, kinerja kabinet Prabowo-Gibran selama 100 hari pertama mengecewakan,” tulis laporan Celios yang dirilis pada Selasa, 21 Januari 2025.

Metode dan Indikator Penilaian

Laporan ini menggunakan survei berbasis expert judgment, dengan panel yang terdiri dari jurnalis-jurnalis senior yang memiliki wawasan mendalam tentang kinerja pemerintah. Para panelis memberikan peringkat kepada tiga menteri terbaik berdasarkan lima indikator utama: pencapaian program, kesesuaian rencana kebijakan dengan kebutuhan publik, kualitas kepemimpinan dan koordinasi, tata kelola anggaran, serta komunikasi kebijakan.

Responden survei berasal dari berbagai desk, termasuk ekonomi, sosial dan politik, hukum dan HAM, serta energi dan lingkungan. Metodologi ini, menurut Celios, dirancang untuk menghasilkan penilaian yang komprehensif dan mencerminkan pandangan luas tentang kinerja pemerintah.

Survei Alternatif dari Litbang Kompas

Namun, survei dari Litbang Kompas memberikan gambaran berbeda. Sebanyak 80,9 persen responden survei Litbang Kompas menyatakan puas dengan kinerja 100 hari kabinet Prabowo-Gibran, sementara hanya 19,1 persen yang merasa tidak puas. Hasil ini menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam penilaian publik terhadap pemerintahan dibandingkan dengan temuan Celios.

Sorotan terhadap Kebijakan HAM

Kritik terhadap Natalius Pigai, menurut laporan Celios, banyak terkait dengan isu kebijakan HAM yang kontroversial dan minim terobosan. Penilaian ini menjadi salah satu perhatian besar dalam laporan tersebut, mengingat HAM merupakan salah satu aspek fundamental dalam pemerintahan yang efektif.

Rekomendasi dan Harapan ke Depan

Celios merekomendasikan agar pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap menteri-menteri yang mendapatkan skor rendah. Selain itu, penting untuk memperkuat koordinasi kabinet guna memastikan kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan publik. Rekomendasi ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja kabinet di masa mendatang.

Mengapa Perspektif Berbeda Terjadi?

Perbedaan hasil antara Celios dan Litbang Kompas menunjukkan bahwa persepsi terhadap kinerja pemerintahan tidak selalu seragam. Faktor-faktor seperti latar belakang responden, indikator penilaian, dan cakupan survei dapat memengaruhi hasil akhir.

Evaluasi 100 hari kabinet Prabowo-Gibran menunjukkan adanya tantangan besar di sejumlah sektor. Dengan kritik yang muncul, terutama terkait kebijakan HAM, pemerintah diharapkan dapat segera mengambil langkah korektif. Sementara itu, apresiasi terhadap menteri-menteri dengan kinerja baik menunjukkan adanya potensi positif yang perlu terus didukung dan dikembangkan. Semua ini menjadi modal penting untuk membangun pemerintahan yang lebih efektif dan berorientasi pada kepentingan rakyat. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.