Sejumlah orangtua murid di salah satu SD negeri di Tangerang Selatan (Tangsel) mengeluhkan kualitas makanan yang dibagikan kepada siswa pada Senin (23/2/2026).
Menu yang diterima disebut berbau menyengat, berlendir, bahkan diduga tidak layak konsumsi.
Risa (bukan nama sebenarnya), salah satu orangtua murid, mengaku mencium aroma tak sedap saat membuka dua siomay dalam kotak mika dan satu bakpao isi cokelat yang dibawa pulang anaknya.
“Baunya menyengat dan lengket. Bakpaonya keras dan rasanya agak asam,” ujarnya.
Keluhan serupa datang dari orangtua lain, Manto (49).
Ia menyebut kualitas MBG justru menurun selama Ramadhan.
Jika sebelumnya menu masih dilengkapi susu dan makanan utama yang dinilai layak, kini justru ditemukan cilok berlendir dan bakpao keras.
“Itu sudah tidak layak. Untung anak-anak sedang puasa, jadi tidak langsung dimakan,” katanya.
Makanan tersebut akhirnya dibuang demi keamanan.
Para orangtua telah menyampaikan protes melalui koordinator kelas (korlas) hingga komite sekolah, namun belum mendapat respons.
Sebagian bahkan mengusulkan agar anggaran dialihkan langsung kepada wali murid untuk dikelola mandiri.
Kepala sekolah, Suwito, membenarkan adanya laporan tersebut dan menyatakan telah meneruskannya ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Dari pihak dapur, keluhan disebut sedang ditindaklanjuti kepada pelaku UMKM penyedia menu.
Hingga berita ini diturunkan, pihak SPPG belum memberikan keterangan resmi.
Kasus ini menambah daftar evaluasi serius terhadap pelaksanaan MBG di lapangan.