Kerja sama Indonesia dan Singapura di sektor energi memasuki babak baru. Dalam pertemuan bilateral di Istana Negara, Presiden Prabowo Subianto menetapkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara sebagai pihak yang akan mengimplementasikan kerja sama perdagangan listrik lintas batas dengan Singapura.
Kesepakatan tersebut menjadi bagian dari 26 hasil kerja sama yang disepakati kedua negara, terdiri atas 18 kesepakatan antarpemerintah (government-to-government) dan delapan kesepakatan antarpelaku usaha (business-to-business).
“Indonesia telah menunjuk BPI Danantara untuk implementasi kerja sama perdagangan listrik lintas batas, serta berbagai kegiatan di bidang perdagangan, energi, ekonomi digital, ekosistem digital, dan keamanan siber. Kita telah melakukan diskusi dan mencapai hasil-hasil yang cukup konkret,” ujar Prabowo dalam konferensi pers.
Selain sektor energi, Indonesia dan Singapura juga sepakat memperkuat kolaborasi di bidang ketahanan pangan, rantai pasok, pertahanan dan keamanan, serta implementasi kerja sama di sektor pertanian.
“Kerja sama ekonomi tetap menjadi pilar utama dalam hubungan kita. Di semua bidang, kita melihat peningkatan kerja sama, perdagangan, dan konektivitas di hampir seluruh sektor,” jelas Prabowo.
Di tengah pengumuman tersebut, kebijakan ekspor listrik justru memicu sorotan di media sosial. Sejumlah warganet mempertanyakan langkah pemerintah yang dinilai lebih dahulu mendorong ekspor energi, sementara persoalan kelistrikan di dalam negeri masih menjadi perhatian.
Mereka menyinggung sejumlah kejadian pemadaman listrik yang sempat terjadi di berbagai wilayah, termasuk di Pulau Jawa maupun daerah terdampak bencana seperti Aceh, yang menurut mereka seharusnya menjadi prioritas untuk dibenahi.
Tak sedikit pula yang mengaitkan kebijakan tersebut dengan langkah pemerintah yang sebelumnya memperketat pengawasan sekaligus membatasi ekspor batu bara bagi pelaku usaha demi menjaga pasokan energi nasional.
Menurut sejumlah komentar di media sosial, kebijakan ekspor listrik dinilai memunculkan pertanyaan mengenai prioritas pemerintah dalam memastikan kebutuhan energi masyarakat di dalam negeri tetap terpenuhi. Hingga saat ini, pemerintah belum memberikan penjelasan khusus terkait kritik tersebut.
Pertemuan tersebut juga membahas berbagai isu regional dan global yang dinilai berdampak terhadap kepentingan kedua negara. Prabowo menegaskan pentingnya penyelesaian konflik melalui jalur damai.
“Kita menegaskan bahwa ASEAN berpandangan setiap sengketa harus diselesaikan secara damai melalui dialog dan diplomasi, tidak hanya di kawasan kita, tetapi juga di semua kawasan,” kata Prabowo.
Prabowo menambahkan, kedua negara berkomitmen untuk terus memperkuat kemitraan jangka panjang. Menurutnya, kerja sama yang dibangun saat ini bukan hanya menjawab tantangan masa kini, tetapi juga menjadi fondasi hubungan Indonesia dan Singapura di masa mendatang.
“Tahun depan kita akan memperingati 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Singapura, dan kita melihat hubungan ini harus terus langgeng pada masa-masa yang akan datang,” pungkas Prabowo.
Dengan berbagai kesepakatan yang telah dicapai, Indonesia dan Singapura diharapkan dapat semakin memperkuat kemitraan strategis di berbagai sektor serta mendorong kerja sama yang saling menguntungkan di masa mendatang.