Minggu, Juni 7, 2026

Roti Ganjel Rel, Makanan Tradisi yang Melekat di Semarang

MELIHAT INDONESIA, SEMARANG – Roti ganjel rel, salah satu ikon kuliner khas Semarang, menyimpan sejarah panjang yang menarik. Roti ini mulanya dikenal sebagai roti gambang karena bentuknya menyerupai alat musik tradisional tersebut. Namun, seiring waktu, masyarakat Semarang lebih akrab dengan sebutan “ganjel rel,” merujuk pada kemiripannya dengan bantalan rel kereta api.

Keberadaan roti ganjel rel tidak lepas dari pengaruh budaya Belanda, khususnya adaptasi dari roti Ontbijtkoek. Meski demikian, keterbatasan bahan baku pada masa lalu membuat masyarakat lokal memodifikasi resepnya dengan menggunakan gaplek atau ketela sebagai pengganti tepung gandum. Hasilnya, tercipta roti dengan tekstur bantat dan rasa yang unik, meski sempat dianggap kurang enak.

Roti ini juga memiliki kaitan erat dengan tradisi Dugderan, acara tahunan yang menyambut bulan Ramadan di Semarang. Setiap tahunnya, ribuan roti ganjel rel dibagikan kepada masyarakat oleh takmir Masjid Agung Kauman Semarang. Masyarakat percaya bahwa teksturnya yang padat membuat roti ini mampu memberikan rasa kenyang lebih lama, sehingga cocok untuk mendukung ibadah puasa.

Namun, popularitas roti ganjel rel tidak setara dengan makanan khas Semarang lainnya, seperti lumpia atau tahu gimbal. Salah satu penyebabnya adalah teksturnya yang dianggap terlalu keras untuk sebagian orang. Meski begitu, pakar gizi menyebut tekstur ini baik untuk pencernaan, bahkan roti ganjel rel pernah masuk daftar 50 roti terbaik dunia versi CNN pada 2019.

Di tengah berbagai tantangan, sejumlah produsen mencoba melestarikan roti ganjel rel dengan berinovasi. Anita Subastian, produsen lokal, mengungkapkan bahwa bahan asli seperti cengkeh, kayu manis, dan brown sugar tetap digunakan, tetapi ditambahkan margarin, telur, dan minyak untuk memperbaiki tekstur dan rasa.

Aunil, pemilik merek Masjuki, juga menjadi salah satu pelopor inovasi tersebut. “Saya ingin ganjel rel jadi oleh-oleh seperti lumpia, wingko, atau bandeng presto. Akhirnya, saya mulai benahi tekstur, rasa, sampai nilai gizinya,” ujar Aunil, menggambarkan semangatnya dalam memperkenalkan kembali roti legendaris ini kepada generasi muda.

Meski kini sulit ditemukan di toko-toko modern, roti ganjel rel masih bisa dijumpai di pasar tradisional seperti Pasar Johar. Kehadirannya yang semakin langka membuat banyak pihak berupaya mengembalikan kejayaannya agar tak sekadar menjadi bagian dari sejarah.

Roti ganjel rel tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga simbol budaya yang menyimpan pesan tentang inovasi dan ketahanan. Seiring waktu, roti ini terus bercerita, menjadi saksi perubahan zaman sekaligus pengingat akan kekayaan tradisi yang dimiliki Semarang. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.