MELIHAT INDONESIA, SOLO – Setiap kali Paskah tiba, dunia seolah dipenuhi warna-warni pastel, tawa anak-anak yang memburu telur, dan keranjang-keranjang manis berisi cokelat berbentuk oval. Tapi di balik semua kemeriahan itu, ada satu pertanyaan yang tak pernah sungguh dijawab: mengapa telur? Bagaimana benda sederhana itu bisa menjadi simbol suci dari kebangkitan Sang Juruselamat?
Bagi banyak orang modern, telur Paskah tak lebih dari hiasan musiman. Namun di balik cangkangnya yang rapuh, tersembunyi kisah spiritual yang telah berakar sejak berabad-abad silam—kisah yang nyaris terlupakan di tengah gegap gempita komersialisasi.
Sebelum Kekristenan menyentuh telur dengan makna baru, benda ini sudah lebih dulu dihormati oleh budaya pagan sebagai simbol kesuburan dan kehidupan baru. Tapi, para pengikut Kristus awal memberinya tafsir ulang yang mengejutkan: cangkang telur yang tertutup rapat diibaratkan sebagai makam Yesus, dan retakan pertama saat telur dibuka adalah lambang kebangkitan yang mengguncang dunia.
Dalam tradisi gereja Ortodoks Timur, simbol ini bukan sekadar metafora. Telur diberkati langsung oleh imam, lalu dibagikan kepada jemaat saat Paschal Vigil—ibadah sakral di malam sebelum Paskah. Di sinilah momen spiritual bertemu emosi, karena umat baru saja menyelesaikan puasa panjang tanpa daging dan telur selama 40 hari.
Makna telur semakin mendalam saat warnanya ditambahkan. Umat Kristen di Mesopotamia mewarnai telur mereka dengan merah menyala—mewakili darah Yesus yang menetes di kayu salib. Warna lain menyusul: kuning untuk harapan, biru untuk kasih, hijau untuk kehidupan baru.
Tradisi mewarnai dan menyembunyikan telur pun berkembang. Gereja menggunakan telur sebagai alat pendidikan: gambar-gambar kisah Alkitab dilukis di atasnya, dan anak-anak diminta mencarinya lalu mengisahkan kembali cerita di balik gambar. Bukan sekadar bermain, ini adalah cara untuk menanamkan iman lewat pengalaman yang hidup.
Di masa Reformasi, Martin Luther bahkan memberi sentuhan baru. Para pria akan menyembunyikan telur, dan kaum perempuan serta anak-anak mencarinya. Maknanya dalam: seperti para perempuan yang pertama kali menemukan makam Yesus kosong, begitu pula sukacita menemukan telur menjadi lambang kebangkitan yang ditemukan oleh hati yang penuh iman.
Tradisi ini menyebar luas ke Eropa, bahkan hingga Amerika. Gedung Putih pun tak luput. Easter Egg Roll menjadi perayaan tahunan, di mana anak-anak menggulingkan telur di halaman rumput, seolah menggambarkan batu penutup kubur yang terguling saat Kristus bangkit.
Di Eropa Timur, muncul permainan “egg tapping”—adu kuat cangkang telur rebus. Siapa yang telurnya tak retak hingga akhir, disebut sebagai ‘pemenang kehidupan’. Simbolik? Sangat. Karena hanya yang kokoh dalam iman yang akan bertahan di ujian zaman.
Kini, tradisi itu masih ada, tapi maknanya nyaris memudar. Telur-telur Paskah berubah jadi cokelat komersial, makna kebangkitan terkubur di bawah lapisan gula dan plastik warna-warni.
Padahal di balik kesederhanaannya, telur adalah saksi bisu dari pergulatan antara maut dan kehidupan. Ia bukan sekadar benda untuk diburu, tapi lambang rahasia iman yang paling mendalam—bahwa dari yang tertutup dan gelap, bisa muncul terang yang tak terbendung.
Paskah bukan soal cokelat. Ia adalah kisah darah, pengorbanan, dan kemenangan. Dan telur, dalam sunyinya, menyimpan semuanya. (**)