Sabtu, Juni 6, 2026

Jejak Budaya Candi Jabung, Warisan Megah dari Kerajaan Majapahit

MELIHAT INDONESIA, PROBOLONGGO = Berlokasi di Dusun Jabung, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Candi Jabung berdiri megah di tengah pemukiman warga. Menempati lahan lebih dari 20.000 m² dengan ketinggian 8 mdpl, candi ini merupakan peninggalan bercorak Buddha dari masa Kerajaan Majapahit. Strukturnya tersusun dari batu bata merah, sebagian lainnya menggunakan batu andesit, dan memiliki ukuran panjang 13,11 meter, lebar 9,85 meter, serta tinggi 15,58 meter.

Jika ditelusuri lebih dalam, Candi Jabung memiliki kesamaan dengan candi lain di wilayah Jawa Timur. Ciri-ciri tersebut meliputi bahan bangunan yang dominan batu bata merah, relief bermotif bunga teratai, serta pintu atau bilik pada tubuh candi. Selain itu, candi ini juga memiliki berbagai bagian penting seperti batur candi, kaki, tubuh, dan atap yang mencerminkan keindahan seni masa Majapahit.

Bagian batur candi berbentuk persegi panjang dengan selasar di atasnya, dihiasi relief yang menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat. Pada bagian kaki candi, terdapat panel-panel dengan relief berbentuk kala, cakra, dan surya yang melambangkan kesenian Majapahit. Sementara itu, bagian tubuh candi memiliki bilik berukuran 2,6 x 2,58 meter yang berfungsi sebagai tempat pemujaan.

Candi Jabung juga menyimpan cerita menarik dalam reliefnya, seperti kisah Sri Tanjung. Pada bagian tenggara tubuh candi terdapat relief yang menggambarkan seorang perempuan menaiki punggung ikan, sebuah simbol yang sarat akan makna budaya dan spiritual.

Dalam Kitab Negarakertagama, disebutkan bahwa Raja Hayam Wuruk pernah mengunjungi Desa Kalayu pada tahun 1359 untuk nyekar atau mengadakan persembahan. Desa ini merupakan lokasi Candi Jabung, yang pada masa itu dikenal sebagai Sugata Prasista. Bangunan bercorak Buddha ini dianggap suci dan menjadi salah satu saksi bisu kejayaan Majapahit.

Nama asli Candi Jabung, yakni Bajrajina Paramitapura, berasal dari bahasa Sansekerta. Secara etimologi, “Bajra” mengacu pada dewa Buddhis, “jina” merujuk pada tiga dewa Buddha, “paramamita” berarti ajaran Mahayana Tantra, dan “pura” berarti bangunan candi. Nama Jabung sendiri diambil dari pohon yang banyak tumbuh di sekitar kawasan candi.

Setelah beberapa kali mengalami pemugaran, Candi Jabung ditetapkan sebagai benda cagar budaya oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan pada 5 November 1987. Saat ini, candi ini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menarik perhatian wisatawan, baik lokal maupun internasional.

Pada bagian atap, candi ini diperkirakan memiliki puncak berbentuk stupa, meskipun yang tersisa kini hanya denah atap berbentuk lingkaran dan sebagian tubuh stupa. Sebagai candi bercorak Buddha, keberadaan stupa menjadi ciri khas yang mencerminkan ajaran agama yang dianut masyarakat Majapahit.

Dalam Kitab Pararaton, Candi Jabung juga dikenal dengan gelar Bajrajina Paramitapura. Gelar ini menandakan bahwa candi ini didedikasikan untuk tiga dewa Buddha dan menjadi tempat pemujaan yang sangat dihormati.

Keberadaan Candi Jabung juga dicatat dalam Serat Wulangan Olah-olah Warna-warni, sebuah buku masak koleksi Istana Mangkunegaran Surakarta yang diterbitkan pada 1926. Buku ini mencantumkan catatan terkait seni dan budaya Jawa, termasuk masakan serta bangunan bersejarah seperti candi.

Kini, meski telah melewati berbagai zaman, Candi Jabung tetap menjadi simbol keagungan peradaban Majapahit. Pengunjung yang datang tidak hanya disuguhi keindahan arsitektur, tetapi juga mendapatkan pelajaran berharga mengenai sejarah dan warisan budaya Nusantara. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.