Selasa, Mei 26, 2026

Indonesia Baru Mulai, Program Makan Bergizi Gratis di Malaysia Sejak 1979

MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Malaysia menjadi salah satu negara yang lebih dahulu melaksanakan program makan bergizi gratis untuk pelajar. Program ini pertama kali diterapkan pada tahun 1979 dengan tujuan membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu, termasuk pelajar sangat miskin, penyandang disabilitas, serta masyarakat adat.

Menurut laporan Straits Times, sekitar 4.000 siswa dari 100 sekolah di Malaysia mendapatkan makanan gratis setiap hari sebelum memulai kelas. Program ini terus berkembang, dan pada 2019, Kementerian Pendidikan Malaysia meluncurkan tahap baru yang melibatkan kelompok B40—kelompok rumah tangga dengan pendapatan terendah.

Dengan anggaran mencapai RM289 juta atau sekitar Rp949 miliar, program ini menyediakan sarapan gratis pada pukul 07.00-07.30 untuk siswa sekolah pagi dan makan siang pada pukul 12.30-14.00 bagi siswa sekolah siang. Langkah ini tidak hanya membantu mencukupi kebutuhan gizi tetapi juga menanamkan kebiasaan makan sehat di kalangan pelajar.

Inspirasi untuk Indonesia
Di Indonesia, Presiden Prabowo Subianto baru saja memulai langkah serupa melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pada Senin (6/1/2025), jutaan menu dibagikan di beberapa wilayah dalam rangka uji coba. Program ini bertujuan untuk meningkatkan asupan gizi pelajar sekaligus mengatasi persoalan kesehatan di kalangan anak-anak sekolah.

Juru Bicara Kantor Komunikasi Kepresidenan Dedek Prayudi menjelaskan bahwa program MBG tidak menetapkan standar menu tertentu, melainkan berfokus pada standar gizi, higienitas, dan tata kelola limbah. “Hari ini ada tahu dan dada ayam sebagai pemenuhan gizi protein. Besok, ayam bisa diganti sayap, atau mungkin susu sebagai alternatif,” ungkap Dedek.

Program Serupa di Negara Lain
Tidak hanya Malaysia, beberapa negara lain juga telah mengimplementasikan program makan bergizi gratis untuk pelajar, masing-masing dengan pendekatan dan tantangan yang unik.

  • Spanyol
    Spanyol memberikan makanan gratis kepada anak-anak yang tinggal di panti asuhan dan penyandang disabilitas. Laporan Institut Penelitian Sosio-Ekonomi Luxembourg mencatat bahwa program ini membutuhkan anggaran €502 juta atau sekitar Rp8,5 triliun per tahun.
  • Portugal
    Portugal melaksanakan program serupa untuk anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah atau penyandang disabilitas. Bahkan selama masa liburan, makanan tetap disediakan. Pemerintah Portugal mengalokasikan anggaran sekitar €5,9 juta atau Rp100 miliar per tahun.
  • Prancis
    Prancis memberikan subsidi makanan siang gratis di beberapa wilayah, meskipun tidak secara nasional. Sebanyak 50 dari 35.000 kota mendapat bantuan ini, dengan biaya tiap makanan sekitar €1 atau Rp16.900. Program ini menghabiskan €1,5 miliar atau Rp25 triliun per tahun.
  • Singapura
    Di Singapura, makanan gratis diberikan kepada anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah. Program ini terbatas pada rumah tangga dengan pendapatan di bawah SGD1.900 atau sekitar Rp22 juta. Pelajar yang memenuhi syarat dapat menikmati makanan gratis di sekolah yang berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan.

Belajar dari Praktik Global
Melihat keberhasilan negara-negara tersebut, jelas bahwa program makan bergizi gratis tidak hanya menjadi solusi jangka pendek untuk mengatasi kelaparan, tetapi juga investasi untuk masa depan generasi muda. Bagi Indonesia, pelajaran dari negara-negara ini dapat menjadi panduan untuk menyempurnakan program MBG ke depan, memastikan keberlanjutan, efisiensi, dan dampak yang optimal bagi anak-anak. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.