Oleh : apt Yoga Bagus Wicaksana SFarm
Revolusi industri adalah sesuatu yang lumrah terjadi dalam peradaban manusia, perkembangan tekhnologi yang pesat menuntut manusia untuk bisa beradaptasi pada kebiasaan barunya. Pada hakikatnya perkembangan tekhnologi sangat membantu dan memudahkan manusia dalam melakukan aktivitasnya, akan tetapi pada sisi lain perkembangan tekhnologi yang tidak di barengi dengan pengetahuan, skill dan kedewasaan yang mumpuni akan menjadi boomerang bagi peradaban manusia.
Salah satu perkembangan tekhnologi yang kini terlihat sangat pesat adalah perkembangan tekhnologi kecerdasan buatan (Artificial Intelegence), ide kecerdasan buatan ini awalnya di cetuskan oleh John McCharty pada konfrensi Dartmouth pada tahun 1956, dalam perkembangannya kecerdasan buatan (Artificial Intelegence) sudah banyak membantu pekerjaan manusia dalam berbagai bidang. Dalam beberapa tahun terakhir ini perkembangan kecerdasan buatan ( Artificial Intelegence) mengalami perubahan yang sangat signifikan, tekhnologi ini bisa digunakan dalam berbagai hal baru mulai dari menciptakan gambar hingga menciptakan lagu, perkembangan yang pesat ini tidak menutup kemungkinan juga akan berdampak pada dunia kesehatan salah satunya pada bidang farmasi.
Kegiatan pelayanan kefarmasian adalah kegiatan yang dilakukan oleh seorang professional yaitu apoteker. Dalam beberapa tahun terakhir perkembangan tekhnologi yang pesat telah memberikan dampak yang signifikan bagi dunia farmasi. Pelayanan kefarmasian jarak jauh yang bisa di akses melalui beberapa platform misalnya, aktivitas ini telah menjadi hal baru yang mewarnai revolusi industry bidang kesehatan. Di sisi lain perkembangan tekhnologi seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelegence) juga memberikan dampak negative yang perlu di antisipasi oleh semua kalangan.
Salah satu dampak negatif yang kini sangat terasa dalam dunia farmasi adalah perubahan kebiasaan masyarakat yang kini lebih mengutamakan informasi digital dalam melakukan pengobatan mandiri (self medication), informasi digital terkadang memiliki sudut pandang parsial yang bisa memberikan informasi yang bias, hal ini tentu sangat membahayakan keselamatan pasien sebab pertimbangan asuhan kefarmasian tidak hanya berdasarkan tekstual tapi juga harus mempertimbangkan sisi kontekstualnya.
Secara pengamatan pribadi saya telah banyak menjumpai banyak kasus kesalahan penggunakan obat akibat informasi digital, salah satu kasus yang baru saja kami jumpai adalah seorang perempuan yang datang ke apotek membeli obat diabetes ( antidiabetika ) yang digunakan sebagai terapi program kehamilan, bermodalkan informasi yang di peroleh dari platform media social pasien datang mencoba membeli obat tersebut tanpa tahu kondisi kadar gula darahnya bahkan yang lebih parahnya adalah ketika pasien tidak tahu bahwa sebenarnya obat yang akan di beli adalah obat anti diabetes,contoh diatas adalah bagian kecil dampak nyata dari perkembangan informasi digital yang kini yang secara berlahan tapi nyata telah menjadi dampak negative yang mengancam keselamtan pasien.
Melihat perkembangan teknologi dan perubahan kebiasaan masyarakat sudah barang tentu harus menjadi perhatian khusus bagi semua pihak, apalagi dengan adanya tekhnologi kecerdasan buatan (Artificial Intellegence) yang tidak menutup kemungkinan cepat atau lambat bisa menjelma menjadi alat diagnose mandiri atau menjadi bentuk lain yang memiliki sisi merugikan bagi keselamtan pasien. dalam hal ini tentu pemerintah, kampus dan tenaga kesehatan harus berkolaborasi dalam mengantisipasi arah gerak perkembangan tekhnologi agar berjalan pada arah yang benar yang akan membantu dan menjamin keselamatan pasien. (**)