Rabu, Juli 1, 2026

Kenapa Rasa Masakan Orang Jogja Cenderung Manis?

Bagi anda yang baru pertama kali datang ke Jogjakarta, mungkin anda bakal terkejut saat mencicipi aneka kuliner lokal di Kota Budaya tersebut.

Bagaimana tidak? Hampir semua masakan olahan warga Kota Pelajar ini bercita rasa manis.

Saking manisnya cita rasa masakan- masakan tersebut, saya jadi teringat pengalaman salah seorang kawan asal Bengkulu pada saat pertama datang ke Jogja untuk melanjutkan studi.

“Gila. Pertama kali aku kesini (Jogja), beli makan di warung pakai sayur lodeh. Rasanya manis kali. Mirip kali sama kolak buatan mamak aku tiap (bulan) puasa,” kisah kawan tersebut.

Mendengar cerita tersebut, saya hanya tersenyum.

Membuat hidangan dengan cita rasa dominan manis sesungguhnya tidak hanya menjadi kebiasaan warga Jogja. Tetapi juga meliputi hampir seluruh bekas wilayah Kesultanan Mataram Islam seperti Solo dan sekitarnya.

Kebiasaan tersebut berawal dari masa kolonial, usai Perang Diponegoro berakhir pada tahun 1830. Perang yang menalan biaya amat sangat besar tersebut konon hampir menyebabkan perekonomian pemerintah kolonial bangkrut.

Untuk menambal keuangan yang babak belur, penguasa Hindia Belanda waktu itu, Gubernur Jenderal Van Den Bosch memberlakukan peraturan tanam paksa. Yakni memaksa penduduk sebuah wilayah untuk menanam jenis tanaman tertentu.

Nah, untuk wilayah Jogja dan Solo, kebagian jatah untuk menanam tebu sebagai bahan baku gula untuk diekspor. Akibatnya, hampir seluruh lahan pertanian ditanami tebu. Nyaris tidak lagi tersisa lahan untuk menanam padi.

Sejak saat itu, masyarakat Jogja dan Solo saat itu pun mulai menjadikan air tebu sebagai campuran utama aneka masakan mereka.

Lambat laun, masyarakat Jogja dan Solo pun mulai terbiasa dengan anekan masakan bercita rasa manis dan kebiasaan tersebut terus berlangsung hingga sekarang.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.