MELIHAT INDONESIA, TOBA – Di tengah keindahan Danau Toba yang menawan, sebuah pertunjukan tradisional yang penuh misteri dan pesona menjadi daya tarik utama di Desa Tomok, Pulau Samosir. Para wisatawan yang berkunjung kerap terpana ketika melihat boneka kayu sigale-gale, yang sepintas menyerupai manusia dewasa dengan tatapan kosong yang misterius. Berbalut ulos khas Batak dan dihiasi sortali, boneka ini tiba-tiba bergerak luwes saat musik gondang mulai menggema.
Dibuat dari kayu dan diwarnai kecokelatan, sigale-gale bukan sekadar boneka biasa. Ia adalah simbol budaya yang hidup, digerakkan oleh jalinan tali-temali rumit yang diatur dengan penuh keahlian oleh seorang dalang. Gerakan boneka ini menghidupkan tarian tor-tor, lengkap dengan sentuhan tangan yang bergerak perlahan-lahan di depan dada, menebarkan suasana mistis yang terasa hingga ke penonton.
Sigale-gale mendapatkan namanya dari kata “gale,” yang berarti gerakan lemah gemulai. Boneka ini ditempatkan di atas podium kayu yang menyembunyikan jalinan tali, yang berfungsi bak sistem saraf manusia, menghubungkan setiap bagian tubuh boneka, mulai dari kepala hingga tangannya. Dalang yang memainkannya mampu menciptakan ilusi nyata seakan sigale-gale memiliki jiwa yang ikut menari mengikuti irama.
Namun, lebih dari sekadar pertunjukan hiburan, sigale-gale mengandung makna mendalam yang terkait erat dengan ritual budaya Batak Toba. Kamus Budaya Batak Toba karya MA Marbun dan IMT Hutapea mencatat bahwa pertunjukan ini dimainkan bersama musik gondang saat upacara papurpur sapata, sebuah ritual untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan oleh anggota yang meninggal, terutama jika almarhum tidak memiliki keturunan.
Cerita rakyat yang melatarbelakangi sigale-gale begitu kuat mengakar di masyarakat Danau Toba. Legenda itu bercerita tentang Manggale, putra Raja Rahat dari Samosir yang gugur dalam pertempuran. Raja yang kehilangan pewaris satu-satunya itu meminta dibuatkan patung menyerupai Manggale untuk mengobati kerinduannya. Roh Manggale diyakini hadir dalam patung tersebut, dan Raja Rahat akan menari tor-tor bersama boneka itu, diikuti oleh rakyatnya, demi mengenang sosok yang mereka cintai.
Meskipun tidak ada catatan pasti kapan seni ini mulai muncul, pertunjukan sigale-gale tetap dipelihara turun-temurun. Dalam bukunya Seri Pengenalan Budaya Nusantara: Misteri Patung Sigale-Gale, Sandy Situmorang menulis bahwa seorang raja bernama Gayus Rumahorbo di Desa Garoga adalah pembuat sigale-gale pertama pada 1930. Boneka itu konon bisa mengeluarkan air mata dan menggerakkan ulos di bahunya, menambah aura mistis yang menyelimuti pertunjukan.
Seiring waktu, sigale-gale menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi masyarakat Danau Toba. Baik dalam ritual maupun pesta budaya, pertunjukan boneka ini tidak pernah gagal memukau, membangkitkan rasa penasaran sekaligus menghormati warisan leluhur yang kaya. Kini, wisatawan yang datang ke Tomok tak hanya menyaksikan keindahan alam, tetapi juga merasakan kehadiran sejarah dan budaya yang masih hidup dalam tarian mistis sigale-gale. (**)