Menteri Koperasi Ferry Joko Juliantono mengakui adanya evaluasi terhadap program pelatihan calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan (KopDes) Merah Putih. Menurutnya, format awal pelatihan yang memasukkan materi kedisiplinan dan bela negara dinilai belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pengelola koperasi di lapangan.
Pernyataan tersebut disampaikan Ferry saat menjadi pembicara dalam acara Nommensen Festival di Universitas HKBP Nommensen (UHN) Medan, Rabu (29/7/2026). Ia menjawab langsung pertanyaan mahasiswa terkait polemik pelatihan calon manajer KopDes yang sempat menuai kritik karena dianggap terlalu bernuansa militer.
Ferry secara terbuka menyebut terdapat ketidaksesuaian antara materi awal dengan kebutuhan utama para calon pengelola koperasi.
“Memang ada yang tidak nyambung,” kata Ferry dalam kesempatan tersebut.
Ia menjelaskan Kementerian Koperasi telah berkoordinasi dengan Kementerian Pertahanan untuk melakukan perombakan kurikulum pelatihan. Format baru akan lebih diarahkan pada kemampuan yang mendukung pengelolaan koperasi secara profesional.
Materi pelatihan kini lebih banyak menitikberatkan pada manajemen keuangan, tata kelola koperasi, akuntansi, hingga kemampuan komunikasi sosial dengan masyarakat desa.
Selain perubahan kurikulum, Ferry juga menyampaikan pemerintah tengah menyelesaikan aturan pendukung operasional KopDes Merah Putih. Termasuk di dalamnya skema gaji bagi karyawan koperasi yang ditargetkan segera rampung melalui Peraturan Presiden (Perpres).
Ferry berharap KopDes Merah Putih dapat benar-benar menjadi penggerak ekonomi desa dengan pengelola yang memiliki kemampuan bisnis dan manajerial, bukan hanya mengandalkan aspek kedisiplinan.