Oleh : Christina Devania
Memilih, mengusung, sampai memenangkan Gibran Rakabuming Raka, nyatanya tidak membuat posisi Airlangga aman, damai dan tenteram. Pasalnya jabatan sebagai ketum Golkar terancam beralih pada tokoh baru. Beberapa nama bahkan sudah mulai diteriakkan internal partai, yang paling santer di media ada Jokowi.
Namun apakah orang yang berhasil mencapai titik puncak bersama PDIP itu, bisa begitu saja menjadi ketum Golkar? Tidak, karena saat diwawancara, dewan penasehat Golkar Abu Rizal Bakrie menegaskan mekanisme kader mereka yang masuk menjadi pengurus harus melalui pengkaderan selama kurang-lebih 5 tahun.
Jikalau Jokowi maupun anaknya menginginkan jabatan itu, maka sudah semestinya mereka menjadi kader terlebih dahulu. Tidak perlu bersusah payah menangkis syarat mahabenar itu, karena nama lain muncul. Kemunculan nama itu pula yang mungkin bisa mengamankan posisi kekuasaan di dalam Golkar, yakni Bahlil Lahadalia yang memiliki jejak bersama Golkar. Melihat peta politik hari ini, posisi Airlangga sudah mulai terancam dengan selentingan kabar tersebut. Bahkan di posisinya saat ini, dia masih mengais-ngais jabatan di kabinet sebagai jatah hasil jerih payahnya memenangkan Prabowo-Gibran. Langkah itu bisa menjadi satu fenomena gigihnya dia sebagai seorang ketum.
Bahlil memang menjadi salah satu benteng untuk melindungi tindak-tanduk sang presiden. Namun publik juga melihat Airlangga yang montang-manting mengusung Gibran, disaat ada namanya yang dia hapus sendiri dari bursa capres maupun cawapres 2024. Lalu siapakah yang bakal menduduki kursi ketum Golkar? Masih menjadi pertanyaan besar, karena internal Golkar pun menjadi pecah. Ada yang menyuarakan Jokowi, ada pula Bahlil. Mungkin juga di kubu Airlangga.
Kalau sudah ada nama menetap seperti Airlangga dan nama baru yakni Bahlil, bukan berarti nama Jokowi dihapuskan dari kandidat Ketum Golkar. Karena syarat partai hanya butiran debu bagi mereka, bisa dinego sesuai penawaran. Konstitusi negara saja bisa difleksibelkan, apalagi peraturan parpol. Sangat mudah, bukan?? Kita tunggu saja siapa ketum parpol rintisan Soeharto itu.