Selasa, September 22, 2026

94 Warga Meninggal di Pengungsian, Gempa Flores Sisakan Pertanyaan Besar

JAKARTA – Gempa mungkin berhenti mengguncang, tetapi bagi warga Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masa darurat belum benar-benar berakhir. Pertanyaan besar kini muncul, berapa banyak lagi warga sipil yang harus menjadi korban setelah bencana?

Data BNPB yang dipaparkan pada 15 September 2026 mencatat total 142 orang meninggal dunia akibat gempa bumi M7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus lalu. 

Dari jumlah tersebut, 48 orang meninggal akibat dampak langsung gempa, sementara 94 lainnya meninggal secara tidak langsung saat berada di pengungsian. Artinya, sekitar dua pertiga korban jiwa tercatat meninggal ketika berada dalam masa pengungsian.

Data tersebut menjadi sorotan karena pengungsian seharusnya menjadi tempat perlindungan bagi warga yang kehilangan rumah. 

Namun, BNPB menyebut sebagian besar korban yang meninggal di pengungsian merupakan kelompok rentan, terutama lanjut usia dengan riwayat penyakit kronis. Angka ini sekaligus mendorong evaluasi terhadap perlindungan dan pelayanan kesehatan selama masa pengungsian.

Persoalan perlindungan warga di lokasi pengungsian juga muncul dari adanya laporan dugaan kekerasan seksual terhadap anak korban gempa di Kabupaten Sikka. Kasus tersebut telah dilaporkan dan ditangani kepolisian. Di sisi lain, keterbatasan fasilitas membuat pemisahan shelter laki-laki dan perempuan belum mudah diterapkan di sejumlah lokasi pengungsian.

Tekanan juga dirasakan dalam layanan kesehatan. Di Manggarai Timur, sejumlah fasilitas kesehatan mengalami kerusakan akibat gempa. Puskesmas Dampek bahkan membutuhkan dukungan tenaga medis tambahan untuk menangani banyaknya pasien pascabencana. Tim medis darurat kemudian diterjunkan untuk membantu memulihkan layanan kesehatan dasar bagi penyintas.

Sementara itu, proses pendataan dan pemulihan masih berjalan. BNPB mencatat data awal sebanyak 102.384 rumah menjadi sasaran verifikasi di tujuh kabupaten terdampak. Hingga 7 September, baru 51.591 rumah atau sekitar 50,39 persen yang telah diverifikasi dan divalidasi.

Ancaman gempa susulan pun belum sepenuhnya hilang. Hingga 15 September 2026, BMKG mencatat 15.722 gempa susulan sejak gempa utama M7,7, dengan 190 di antaranya dirasakan masyarakat. Meski aktivitas gempa telah memasuki fase peluruhan, BMKG tetap mengimbau warga untuk waspada selama proses rehabilitasi dan rekonstruksi.

Rangkaian data tersebut menunjukkan bahwa penanganan pascagempa tidak berhenti pada evakuasi dan distribusi bantuan. Perlindungan kelompok rentan, layanan kesehatan, keamanan pengungsian, hingga akurasi pendataan menjadi bagian penting agar warga yang telah kehilangan tempat tinggal tidak kembali menghadapi risiko baru di tempat yang seharusnya menjadi ruang aman.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.