Selasa, Juli 14, 2026

Agrinas soal Laba Kopdes Merah Putih Rp78 Ribu, Sebut Tidak Mengejar Keuntungan, Netizen : Lalu Buat Apa?

Laba bersih Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di Kabupaten Melawi yang disebut hanya mencapai Rp78 ribu menjadi perhatian publik. Angka tersebut memunculkan berbagai pertanyaan mengingat setiap unit koperasi memperoleh modal awal sebesar Rp3 miliar.

Menanggapi hal itu, Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, menegaskan bahwa Kopdes Merah Putih sejak awal tidak dirancang semata-mata sebagai lembaga yang berorientasi pada keuntungan finansial.

“Kami memang tidak mengejar keuntungan materi semata,” ujar Joao.

Menurutnya, tujuan utama pembentukan Kopdes Merah Putih adalah memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat desa. Karena itu, keberhasilan koperasi tidak hanya diukur dari besarnya laba yang diperoleh.

Joao menjelaskan, koperasi memiliki sejumlah fungsi strategis, mulai dari mendampingi petani sejak proses tanam hingga panen, menjadi pembeli hasil panen (offtaker) agar petani memiliki kepastian pasar, hingga membantu penyaluran barang subsidi pemerintah seperti pupuk dan LPG melalui sistem verifikasi KTP agar distribusinya lebih tepat sasaran.

Meski demikian, besaran laba yang relatif kecil tetap menjadi perhatian publik. Selain laba bersih Rp78 ribu, muncul pula informasi bahwa pengelola gerai koperasi hanya menerima gaji sekitar Rp76 ribu. 

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai skema operasional koperasi, termasuk sumber pembiayaan untuk biaya operasional dan kesejahteraan para pengelola.

Hingga kini, Agrinas belum memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai mekanisme penggajian pengelola koperasi maupun rincian pembiayaan operasional di luar penjelasan bahwa Kopdes Merah Putih lebih mengedepankan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat desa. 

Pada hari koperasi kemarin Presiden Prabowo sendiri sudah mengungkapkan rencana besar di balik perluasan barang subsidi yang annti didistribusikan lewat Koperasi Merah Putih. 

Polemik kembali muncul karena dari pernyataan tersebut persaingan dagang di lingkup masyarakat semakin nampak. Bukan lagi sekelas Alfamart dan Indomart tapi juga toko kelontong milik masyarakat hingga usaha kecil lainnya. Begitukah yang disebut “tidak mengejar keuntungan” disaat persaingan dagang justru diperketat. 

Ke depan, transparansi mengenai model bisnis, sumber pendanaan operasional, serta keberlanjutan pengelolaan koperasi dinilai penting agar masyarakat dapat memahami secara utuh tujuan dan kinerja Program Koperasi Desa Merah Putih.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.