SEMARANG – Energi bersih yang diharapkan menjadi solusi justru memicu kekhawatiran di lereng Gunung Ungaran. Rencana proyek geothermal ditolak sejumlah warga karena dikhawatirkan berdampak pada sumber air yang menjadi kebutuhan penting masyarakat.
Penolakan disampaikan dalam Dialog Stakeholder Panas Bumi Gunung Ungaran di Kampus FISIP Undip Semarang, Kamis (17/9/2026). Sejumlah elemen masyarakat, pelaku usaha hingga pemerintah desa mempertanyakan potensi dampak proyek terhadap lingkungan.
Ketua PHRI Kabupaten Semarang Bambang Ari Wijanarko mengatakan eksploitasi geothermal dikhawatirkan memengaruhi lapisan akuifer. Kekhawatiran ini dinilai serius karena wilayah Bandungan disebut kerap mengalami kesulitan air saat musim kemarau.
Aliansi Penyelamat Gunung Ungaran menyebut telah mengumpulkan sekitar 12 ribu petisi penolakan secara elektronik dan manual. Mereka juga telah mengirimkan surat kepada Presiden dan Kementerian ESDM.
Warga turut mempertanyakan keterbukaan informasi proyek dan mendorong pengembangan energi terbarukan lain, seperti tenaga surya dan tenaga air.
Sementara itu, Kementerian ESDM menyatakan proyek masih dalam tahap studi. Aspirasi masyarakat akan diteruskan kepada PLN, sementara kajian geofisika, geokimia, dan geologi masih dilakukan untuk menentukan titik pengembangan.
ESDM memperkirakan kebutuhan lahan proyek sekitar 40–50 hektare. Pemerintah dan pengembang juga berencana melanjutkan dialog dengan masyarakat sebelum proyek memasuki tahap berikutnya.