BANDUNG — Wacana Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai menghangat dengan munculnya spekulasi politik yang menduetkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Isu ini kian santer diperbincangkan seiring dengan meroketnya elektabilitas Dedi yang menyentuh angka 35 persen berdasarkan hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada periode Juli 2026.
Menanggapi dorongan ke panggung politik nasional tersebut, Dedi Mulyadi dengan tegas menyatakan bahwa dirinya sama sekali belum memikirkan agenda Pilpres. Ia memastikan bahwa fokus utamanya saat ini murni untuk menuntaskan tanggung jawab dan memberikan kinerja terbaik bagi masyarakat Jawa Barat.
“Kita lagi mikir bagaimana jadi gubernur yang sukses. Tidak mikir yang lain,” tegas Dedi saat dimintai keterangan di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Selasa (22/9).
Untuk menegaskan posisinya yang belum tertarik pada bursa Pilpres, Dedi bahkan merespons pertanyaan awak media dengan gaya santai. Ia berseloroh bahwa memikirkan urusan asmaranya untuk esok hari saja belum terlintas di benak, apalagi harus dipusingkan dengan kontestasi politik 2029 yang masih berjarak cukup jauh.
Menariknya, respons penolakan halus dari Gubernur Jawa Barat ini justru memicu nuansa deja vu di kancah perpolitikan nasional. Jawaban Dedi dinilai sangat identik dengan gaya komunikasi politik Joko Widodo saat masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta sebelum perhelatan Pilpres 2014 silam.
Kala itu, Jokowi juga berulang kali menepis isu pencalonan presiden dengan alasan klise, yakni ingin fokus mengurus Jakarta. Namun, pada faktanya, sejarah mencatat bahwa Jokowi akhirnya tetap maju dan memenangkan kontestasi Pilpres 2014.
Kesamaan pola komunikasi ini membuat publik kini menerka-nerka, akankah jejak sejarah yang sama terulang pada langkah politik Dedi Mulyadi ke depannya.