JAKARTA – Bayangkan masa remaja dan masa muda Anda direnggut paksa dari balik jeruji besi, tanpa pernah ada proses peradilan, dan tanpa tahu apa salah Anda. Itulah nasib tragis yang dialami Maria Goretti Sumilah, salah satu korban salah tangkap dalam gelombang penahanan pasca-tragedi Gerakan 30 September (G30S) 1965.
Sumilah baru menginjak usia 14 tahun saat aparat menggelandangnya ke Penjara Wirogunan, Yogyakarta, pada November 1965. Kala itu, ia bingung bukan kepalang. Satu-satunya ‘dosa’ yang bisa ia reka-reka hanyalah kegemarannya menari bersama teman-teman sebaya dengan iringan lagu Genjer-genjer.
Fakta memilukan baru terungkap enam tahun kemudian saat ia dipindahkan ke Kamp Plantungan, Kendal. Sumilah ternyata murni korban salah tangkap! Target aparat sesungguhnya adalah seorang guru dari desa lain. Namun, terkuaknya fakta fatal ini tak lantas membuat pintu penjara terbuka. Sistem saat itu tetap menahannya.
Dari Penjara Wirogunan, ia sempat dipindah ke Penjara Bulu, Semarang, sebelum akhirnya dikirim ke Kamp Plantungan pada 1971. Kompleks bekas rumah sakit lepra peninggalan Belanda itu diubah menjadi pusat penahanan sekitar 500 tahanan politik (tapol) perempuan golongan B. Di tempat terpencil inilah, Sumilah menghabiskan masa mudanya dengan membabat alang-alang, bertani, beternak, hingga memasak untuk ratusan penghuni kamp.
Titik terang baru muncul pada 19 November 1979. Setelah 14 tahun hidup tanpa kebebasan, Sumilah dan 274 tapol lainnya akhirnya dibebaskan. Ia masuk penjara sebagai anak remaja, dan keluar sebagai perempuan dewasa. Sayangnya, udara bebas tak lantas membebaskannya dari belenggu. Stempel “Eks-Tapol” tertera jelas di Kartu Tanda Penduduk (KTP) miliknya, yang otomatis membatasi ruang geraknya selama bertahun-tahun.
Begitu kelamnya memori tersebut, Sumilah memilih bungkam. Ia bahkan menyimpan rapat rahasia masa lalunya ini hingga kedua orang tuanya meninggal dunia, semata-mata agar mereka tak ikut terbebani penderitaannya. Kisah pilu ini baru ia tuturkan bertahun-tahun kemudian kepada anak perempuannya, yang rekam jejaknya sempat diangkat ke dalam film dokumenter Kado Untuk Ibu.
Kini, jejak fisik kamp penahanan Plantungan hampir tak berbekas usai tersapu banjir bandang pada 1990 dan beralih fungsi menjadi Bumi Perkemahan Jodipati. Meski masa mudanya telah hangus direnggut akibat kecerobohan aparat di masa lalu, Sumilah menolak hidup dalam bayang-bayang dendam.
“Tidak ada kebencian, semua sudah berlalu,” ucapnya tegar, menutup babak kelam sejarah dengan pemaafan yang luar biasa.