JAKARTA – Perkembangan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan ekonomi digital dunia memicu lonjakan kebutuhan energi yang masif. Menangkap peluang emas ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, melontarkan tawaran menggiurkan kepada para investor global untuk membangun data center atau pusat data di Indonesia.
Menurut Bahlil, Indonesia mengantongi modal utama yang paling dicari oleh raksasa teknologi saat ini: pasokan energi yang melimpah ruah. Ia meyakini, tren konsumsi listrik untuk menopang infrastruktur digital akan terus meroket tajam seiring makin canggihnya teknologi AI.
Tak sekadar menawarkan pasokan listrik biasa, Bahlil menyodorkan ‘karpet merah’ berupa sumber energi hijau yang berkelanjutan. Salah satu ‘harta karun’ yang diunggulkan adalah potensi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Sebagai bukti nyata, Bahlil memamerkan kawasan Kalimantan Utara (Kaltara) yang menyimpan potensi energi hidro raksasa. Kawasan ini dinilai sangat ideal dan siap dikembangkan untuk menyuplai kebutuhan listrik kawasan industri berskala besar hingga data center bertaraf internasional.
Langkah agresif ini merupakan strategi pemerintah agar potensi energi domestik bisa menjadi daya tarik utama bagi pemodal asing. Pemerintah tidak ingin raksasa teknologi terus-terusan hanya menempatkan infrastruktur digital vital mereka di negara-negara tetangga.
Sebagai penutup, Bahlil berani memberikan jaminan penuh. Ia memastikan bahwa Indonesia tak hanya sanggup memenuhi kebutuhan listrik data center yang dikenal ‘rakus energi’, tetapi juga siap mendukung para investor untuk mengoperasikan infrastruktur mereka menggunakan energi yang jauh lebih bersih dan ramah lingkungan.