JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto secara terbuka menyentil ketidakhadiran Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Tahun 2026 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Kamis (22/10/2026). Di tengah kehadiran para kepala daerah, kursi perwakilan Jawa Barat hanya diisi oleh Wakil Gubernur Erwan Setiawan.
“Wagub Jabar Saudara Erwan Setiawan, ke mana KDM? Hahaha, yang paling dekat enggak hadir malah, pasti sibuk, oke,” seloroh Presiden Prabowo di hadapan ratusan peserta sidang.
Meski dibumbui candaan dan KDM diketahui tengah memimpin penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lereng Gunung Ciremai, Kuningan, para pengamat membaca sentilan tersebut sebagai cerminan dinamika politik menuju Pemilihan Presiden 2029. Hal ini tak lepas dari kejutan hasil riset Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) periode 1-10 Oktober 2026 yang menempatkan elektabilitas KDM jauh di atas petahana.
Dalam simulasi bursa capres tersebut, elektabilitas mantan Bupati Purwakarta itu meroket hingga 35,5 persen, mengungguli Prabowo Subianto yang berada di kisaran 9,8 persen. Direktur SMRC Deni Irvani, menyoroti bahwa massa pendukung KDM tidak otomatis beralih ke Prabowo meski keduanya berada di bawah payung Partai Gerindra.
“Meskipun Dedi Mulyadi tidak maju karena berasal dari partai yang sama dengan presiden, dia tetap lemah, tidak berhasil menarik elektabilitas Dedi Mulyadi,” jelasnya.
Anomali elektoral ini sempat memicu spekulasi publik agar KDM mengambil langkah independen dan keluar dari partai, kendati rumor tersebut telah ditepis oleh elite internal. Pendiri SMRC, Saiful Mujani, mengingatkan bahwa tingginya elektabilitas KDM bisa saja terbentur oleh aturan ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold) jika koalisi gemuk pendukung pemerintah kembali bersatu pada 2029.
Apabila KDM terdepak dari gerbong pencalonan akibat manuver elite partai atau skenario koalisi tertutup, pengamat memprediksi akan terjadi fragmentasi masif dan gelombang kekecewaan di basis pemilih tradisional Jawa Barat. Sentilan jenaka Prabowo di arena Rakornas pun dinilai baru menjadi babak awal dari panjangnya perebutan pengaruh menuju suksesi kepemimpinan lima tahun mendatang.