JAKARTA — Sebuah potongan video dan potret yang menampilkan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), sedang menghadiri persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada Kamis (5/11/2026), mendadak viral dan menjadi perbincangan hangat di media sosial. Momen tersebut memicu perdebatan sengit di kalangan warganet, membelah opini publik antara rasa simpati yang mendalam dan kritik tajam.
Dalam persidangan kasus dugaan fitnah dan pencemaran nama baik terkait tuduhan ijazah palsu tersebut, Jokowi hadir langsung untuk menunjukkan seluruh dokumen pendidikan aslinya, mulai dari tingkat SD, SMP, SMA, hingga ijazah S1 Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Namun, perhatian netizen justru tersedot pada sebuah momen tak terduga di ruang sidang. Sebuah rekaman memperlihatkan Jokowi membungkuk hingga hampir berjongkok di samping kursi saksi untuk mengambil sendiri map dokumen ijazahnya yang berada di lantai.
Pihak yang Terharu
Potret tersebut langsung memancing rasa iba dan haru dari para pendukungnya serta sebagian warganet. Banyak yang merasa tidak tega melihat seorang mantan kepala negara yang pernah memimpin Indonesia selama 10 tahun harus memungut sendiri berkasnya di lantai ruang sidang.
Fenomena ini berbuntut panjang hingga membuat ajudan pribadi Jokowi terpaksa melempar permohonan maaf secara terbuka di media sosial. Sang ajudan mengaku bersalah dan merasa kurang sigap dalam membantu serta mendampingi Jokowi selama proses persidangan berlangsung.
Pihak yang Menepis: Sebut “Banyak yang Lebih Kasihan”
Di sisi lain, narasi penuh rasa haru itu langsung ditepis oleh kelompok netizen lain. Di berbagai platform seperti X (dahulu Twitter) dan Instagram, tidak sedikit warganet yang menanggapi momen tersebut dengan nada satir dan kritis. Mereka menilai aksi memungut ijazah sendiri itu hanyalah bagian dari gaya komunikasi politik atau pencitraan yang biasa melekat pada sosok Jokowi.
Kritik publik berfokus pada perbandingan realitas sosial. Banyak netizen yang berkomentar bahwa tidak perlu menaruh rasa iba berlebih kepada seorang mantan presiden yang hidupnya sudah sangat mapan, terjamin, dan memiliki kekayaan bernilai fantastis.
Mereka menegaskan bahwa masih banyak elemen masyarakat bawah—seperti rakyat miskin, pekerja informal, hingga para pengemudi truk—yang kondisinya jauh lebih sulit dan jauh lebih layak untuk dikasihani ketimbang seorang tokoh negara yang sedang menjalani proses hukum demi membersihkan namanya.
Hingga saat ini, potongan video Jokowi di ruang sidang masih terus dibagikan ulang dan memuncaki daftar topik terpopuler di media sosial, mencerminkan bagaimana sosok mantan presiden tersebut tetap menjadi magnet polarisasi opini publik di Indonesia.