BLORA — Kesabaran dan harapan ribuan petani tebu di Kabupaten Blora tak bisa lagi dibendung. Demi mendesak beroperasinya kembali PT Gendhis Multi Manis (PT GMM), para pahlawan swasembada gula ini mengambil langkah berani dengan meneken Pakta Integritas. Tak main-main, Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Blora berjanji akan mengguyur pabrik tersebut dengan pasokan tebu sebanyak 3.500 ton per hari jika mesin giling kembali dihidupkan.
Penandatanganan komitmen berbobot berat ini digelar di Rumah Dinas Bupati Blora, Rabu (4/11/2026), mempertemukan langsung Direktur Utama PT GMM Benhur Ngkaimi dan Ketua APTRI Blora, Drs. H. Sunoto. Momen ini turut disaksikan formasi lengkap Forkopimda yang dipimpin langsung oleh Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman. Sang Bupati sengaja menggunakan momentum ini untuk ‘menyentil’ pemerintah pusat agar tak lagi menutup mata terhadap nasib pabrik dan petani di wilayahnya.
“Alhamdulillah, kepada yang terhormat Pak Menteri Pertanian, Pak Dirut Bulog, dan juga Kepala BP BUMN, hari ini saya dengan Bu Wakil Bupati dan jajaran Forkopimda mendampingi perwakilan petani. Kami berkomitmen mendukung agar PT GMM Bulog segera diperbaiki oleh BUMN,” seru Bupati Arief Rohman lantang usai menyaksikan penandatanganan.
Ia menjamin, target pasokan harian 3.500 ton akan mudah terlampaui jika pabrik siap menampung.
Ambisi ini tercetak jelas di atas kertas. Untuk Musim Giling Tahun 2027, APTRI telah menyiapkan amunisi sekurang-kurangnya 525.381 ton tebu yang siap dipanen dari hamparan lahan seluas 8.508 hektare. Pasokan raksasa ini dipersiapkan untuk mengimbangi kapasitas giling PT GMM yang dipatok di kisaran 3.500–3.800 Ton of Cane per Day (TCD).
Di sisi lain, perwakilan mitra petani tebu asal Todanan, Suhadi, tak bisa menyembunyikan antusiasmenya. Ia menaruh harapan besar agar pemerintah daerah bisa menjadi ‘buldoser’ yang meratakan jalan bagi nasib para petani.
“Saya mohon Bapak Bupati supaya memperjuangkan petani Blora, terutama petani tebu supaya bangkit kembali. Jadi untuk kesediaan mengirim ke GMM, kami sangat siap sekali!” tegas Suhadi.
Merespons gertakan positif dari para petani, PT GMM pun terikat janji untuk segera merombak dan mempersiapkan keandalan mesin pabrik. Pihak manajemen diwajibkan untuk menjamin proses giling berjalan aman dan stabil menuju kapasitas maksimal. Transparansi terkait rencana giling, kebutuhan bahan baku, hingga jadwal tebang kini menjadi harga mati demi tata kelola kemitraan yang bebas dari permainan kotor.