MELIHAT INDONESIA, KLATEN – Mendiang penyair Joko Pinurbo pernah menulis, Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Ungkapan sederhana, untuk merangkum romantisme di wilayah monarki terakhir di Indonesia ini.
Namun, angkringan yang disebut oleh Jokpin itu, bukanlah produk asli Jogja. Kedai sangat sederhana itu bermula dari Ngerangan, sebuah desa di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Mengutip desamind.id , adalah Karso Djukut, warga Dukuh Sawit, Desa Ngerangan mengawali berjualan makanan dan minuman dengan membawa pikulan tumbuh ke Kota Solo medio ’30-an.
Pikulan tumbu tersebut, lalu berganti menjadi pikulan kayu atau yang biasa disebut dengan angkring, kemudian mengalami perkembangan hingga saat ini pedangan angkringan berjualan dengan menggunakan gerobak.
Angkringan, memiliki ciri khas menu nasi kucing serta dilengkapi dengan cerek di atas anglo berisi bakaran arang menjadi warung makan yang makin dikenal dan meluas ke daerah-daerah lain di Indonesia.
Warga Desa Ngerangan menjadikan angkringan sebagai suatu kebanggaan. Angkringan menjadi potensi yang dapat dijadikan identitas atau ikon Desa Ngerangan ke masyarakat luas, bahkan ke berbagai daerah di Indonesia.
Bahkan, hari ini angkringan juga bertransformasi mengikuti zaman. Tidak lagi dikenal sebagai kedai “pinggiran”, sejumlah angkringan modern muncul dengan segudang inovasi, untuk merambah pasar orang-orang berpunya.
Kepala Desa Ngerangan, Sumarno, menyebut 600 dari 1.900 kepala keluarga (KK) di desanya menjadikan angkringan sebagai mata pencaharian.
Pedagang angkringan dari Desa Ngerangan banyak yang merantau ke berbagai daerah, seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, Aceh, Kalimantan dan wilayah lainnya.
Angkringan Merambah Mancanegara
Angkringan ternyata tak hanya bertebaran di Tanah Air. Sebelum adanya pandemi Covid-19, angkringan khas Ngerangan telah menembus hingga pasaran Asia Timur.
Direktur BUMDesa Ngerangan, Gunadi, menyatakan salah satu warga Ngerangan Bernama Nasir, membuka angkringan di Korea Selatan.
Selain itu, angkringan juga ada di Belanda, Jepang, dan Belarusia. (Tim)